Bisnis Indonesia Online » Harga » Komoditas
Selasa, 13/05/2008 08:30 WIB
Minyak tertekan indikasi permintaan akan turun
oleh : Elsya Refianti
NEW YORK (Bloomberg): Minyak mentah melemah memasuki hari kedua pada perdagangan di New York di tengah indikasi harga yang mendekati rekor bakal menghambat permintaan di pasar berkembang.
Impor minyak China melemah pada April karena tingginya harga minyak mentah mendorong kilang memangkas permintaan, dan produksi industri India tumbuh paling rendah sejak 2002, ungkap laporan kemarin. Kenaikan permintaan energi di China dan India telah mengontribusi kenaikan harga minyak menjadi dua kali lipat pada tahun lalu.
Minyak mentah untuk pengiriman Juni melemah 44 sen atau 0,4% menjadi US$123,79 per barel pada pkl. 8:47 waktu Sydney di perdagangan elektronik after-hours New York Mercantile Exchange. Harga minyak telah menguat 98% pada tahun lalu. Kemarin harga kontrak minyak melemah US$1,73 atau 1,4% yang ditutup di posisi US$124,23 per barel setelah menguat menjadi US$126,40, tertinggi sejak perdagangan dimulai pada 1983.
Impor minyak China, konsumen terbesar kedua di dunia, anjlok 3,9% dibandingkan setahun sebelumnya menjadi 14,24 juta metrik ton, atau sekitar 3,5 juta barel per hari, ungkap Customs General Administration of China yang berbasis di Beijing pada situsnya, kemarin. Penurunan itu merupakan yang pertama dalam 18 bulan.
Di India, penambangan, utilitas dan produksi pabrikan naik 3% dari setahun sebelumnya setelah menguat 8,6% pada Februari, kata kantor statistik di New Delhi. Survei para ekonom sebelumnya memproyeksikan kenaikan 5,8%.
Harga minyak mentah brent untuk pegiriman Juni turun US$2,49 atau 2% menjadi US$122,91 per barel di London's ICE Futures Europe kemarin. Kontrak brent menyentuh rekor di posisi US$125,90 pada 9 Mei.(er)
bisnis.com
Berita Lain
- Kopi kontrak September naik jadi US$1,41/pound
- Harga spot emas pagi US$868,05 per ounce
- Harga minyak stabil pada US$119,79
- Malaysia subsidi beras US$122 juta
- Ekspor beras Thailand anjlok 20% tahun depan