Bisnis Indonesia Online » Harga » Komoditas


Rabu, 02/07/2008 13:11 WIB

China siap luncurkan kontrak beras, BBJ belum

oleh : M.Tahir Saleh

JAKARTA (Bisnis.com): Direktur Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) JW Sudomo mengatakan pihaknya belum memperdagangkan kontrak beras, selain emas dan olein.

Dia menanggapi rencana peluncuran kontrak berjangka beras di bursa China tahun ini. China selama ini dikenal sebaagai produsen sekalgus konsumen padi-padian terbesar di dunia.

China National Grain dan Oils Information Center menyatakan Zhengzhou Commodity Exchange, satu dari tiga bursa komoditas negara itu, sudah melengkapi berbagai prosedur peluncuran kontrak beras, menurut Bloomberg.

Sudomo selanjutnya mengatakan bila BBJ mengacu kepada Keppres No.119/2001 tentang jenis komoditas yang dapat dijadikan subjek kontrak berjangka, maka beras tidak termasuk dalam Keppres tersebut.

"Komoditas yang sesuai Keppres kan kopi, minyak kelapa sawit [CPO], karet, kakao, lada, kedelai, bahan bakar minyak, gas alam, tenaga listrik, emas, batubara, dan lai-lain, nah beras belum ada," katanya kepada Bisnis.

Menurut dia, selain alasan regulasi yang menghambat adanya kontrak beras, pemerintah juga tidak menghendaki adanya para spekulan yang akan mempengaruhi harga beras nantinya. Sementara itu, komoditas yang telah diperdagangkan di bursa Zhengzhou diantaranya kapas, gula, minyak, dan gandum.

China mencatat panen padi-padian 200 juta ton per tahun. China melihat adanya peluang dengan meluncurkan kontrak berjangka beras. Hal tersebut tentunya dipicu meningkatnya harga beras dan semakin bertambahnya permintaan akan komoditas pokok itu.

Dari Filipina dilaporkan sebagai importir beras terbesar dunia negra itu mungkin akan membeli 60.000 ton komoditas tersebut dari Jepang pada bulan ini atau bulan depan. Keputusan itu dinyatakan oleh Menteri Pertanian Filipina, Arthur Yap.

Dia mengatakan beras dari Jepang akan dijual lebih rendah dari harga pasar karena harganya telah dikontrakan. (tw)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Tren kenaikan harga komoditas dimulai lagi
  • Harga minyak sedikit berubah pada US$121,27
  • Produksi batu bara Indonesia akan naik 15%
  • Pungutan ekspor CPO September turun menjadi 10%

Komentar

Beri Komentar