Bisnis Indonesia Online » Harga » Komoditas
Rabu, 20/08/2008 15:47 WIB
Krisis pangan global sudah berakhir tahun ini
oleh : Berliana Elisabeth S.
MUMBAI (Bloomberg): Krisis pangan global yang menyebabkan harga harga gandum, beras dan jagung mencapai rekor tertingginya dan kerusuhan di Haiti dan Ivory Coast akan berakhir setelah petani menambah tanamannya.
Sekretaris Pangan Departemen Pertanian India T. Nanda Kumar mengatakan pihaknya optimistis saat ini sudah tidak ada lagi krisis pangan karena ketersediaannya sudah mencukupi.
Petani dari Australia hingga China sudah menaikkan tanamannya demi memanfaatkan kenaikan harga komoditas. Hal ini membantu bertambahnya pasokan dari level terendah 30 tahun. Berakhirnya masa kekurangan pangan akan membantu negara-negara termasuk India dan Mesir menaikkan kembali neraca keuangan negara dan mengurangi laju inflasi.
Lonjakan harga komoditas pangan menyebabkan kelaparan 50 juta penduduk dunia tahun lalu, data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Kami perkirakan saat ini akan terjadi panen yang besar-besaran, sehingga akan membantu meredam lonjakan harga komoditas pangan," kata Parshuram Ray, Direktur Center for Environment and Food Security, perusahaan riset di New Delhi melalui telepon hari ini.
Bank sentral Sri Lanka hari ini menyatakan penurunan harga bahan bakar dan pangan akan menurunkan inflasi di Asia. Inflasi barang-barnag konsumen di negeri itu terlihat mereda pada Juli untuk pertama kali dalam tujuh bulan tahun ini. Inflasi di China juga mereda hingga terlambat dalam 10 bulan per Juli 2008.
Tanaman kedelai mencapai rekor di China dan India, bahkan hampir dua kali lipat dari produksi gandum di Australia, dan panen padi yang lebih banyak di Thailand dan Vietnam, turut membantu kekurangan pangan tahun ini.
Prospek produksi pangan global khususnya gandum dan kedelai sangat bagus ketika harga beras masih tinggi, kata Kumar di New Delhi saat interview 18 Agustus. Namun saat ini harga beras sudah mulai turun meski tidak besar-besaran.
Harga beras meroker dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir ketika China, Mesir, India dan Vietnam menurunkan ekspornya. Harga bahan pangan ini sebenarnya sudah naik dalam lima tahun terakhir meski panen mencukupi, kata Kumar.
Namun harga komoditas pangan sudah mulai turun sejak 3 Juli ketika dolar AS menguat 6,8% terhadap enam valuta kuat lainnya dalam enam bulan terakhir dan minyak mentah turun 22% dari rekro tertingginya sehingga mengurangi permintaan untuk biofuels untuk komoditas pertanian seperti gula.
Harga beras melorot 29% dari rekor tertingginya ketika harga gandum dan jagung juga terpental 35% dan 26% dari rekor tertingginya.
India, produsen beras dan gandum terbesar kedua dunia, membutuhkan revolusi hijau tahap dua untuk memenuhi kebutuhan pangan akibat kenaikan pendapatan 1,1 miliar penduduknya, kata Kumar.
Produk komoditas pertanian sebagai bahan pangan seperti beras, gandum, dan jagung sudah naik 10% sejak 200. Panenan bahan pangan mencapai rekor 230,7 juta ton untuk tahun yang berakhir 30 Juni dari 209,8 juta ton pada 2000, data menteri pertanian India.
bisnis.com
Berita Lain
- Minyak terpangkas pengangguran AS ke US$66
- Minyak naik tipis dekati US$69 per barel
- Minyak turun dari tertinggi 8 bulan, ke level US$70
- Minyak tembus level US$73 per barel di New York
- Kenaikan harga komoditas berpotensi terhenti