Bisnis Indonesia Online » Harga » Komoditas
Kamis, 21/08/2008 08:20 WIB
Minyak naik ke US$115,56 karena stok turun
oleh : Berliana Elisabeth S.
NEW YORK (AP): Harga minyak mentah rebound kembali menyentuh US$115 per barel pagi ini setelah pemerintah AS melaporkan persediaan bensinnya anjlok dan penguatan dolar AS.
Harga minyak terus berfluktuasi bahkan sempat turun setelah Departemen Energi AS melaporkan kenaikan impor sehingga menambah persediaan minyaknya menjadi 9,4 juta barel pada pekan yang berakhir 15 Agustus. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan analis yakni hanya naik 1,7 juta barel.
Namun tidak semua pasokan bahan bakar AS menunjukkan kenaikan. Persediaan bensin turun hingga melampaui perkiraan yakni 6,2 juta barel menjadi di bawah level rata-rata, kata EIA. Cadangan minyak hasil penyulingan termasuk minyak pemanas dan bahan bakar diesel, naik namun angkanya masih dibawah perkiraan. Harga bensin dan minyak pemanas, seperti minyak mentah, mengakhiri sesi harga tertingginya.
Harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Oktober naik US$1,01 menjadi US$115,56 per barel pagi ini di New York Mercantile Exchange. Untuk kontrak September harga juga naik 45 sen AS menjadi US$114,98 per barel setelah sempat melonjak mencapai US$117,03 tadi malam sebelum data persediaan minyak AS dirilis, namun akhirnya sempat turun menjadi US$112,61, lalu pagi ini kembali rebound. Kontrak September berakhir Rabu kemarin.
Minyak brent di ICE futures exchange London juga naik US$1,11 menjadi US$114,36 per barel. Kontrak minyak pemanas juga naik 3,98 sen menjadi US$3,1635 per galon di Nyemx ketika kontrak bensin naik 4,64 sen menjadi US$2,9103 per galon. Kontrak gas alam juga naik 10,1 sen menjadi US$8,077 per 1.000 kaki kubik.
Harga minyak ternyata sangat tergantung dari data persediaan minyak AS, konsumen terbesar minayk dunia, serta reboundnya dolar AS turut memengaruhi harga bahan bakar, kata James Cordier, president of Tampa Fla grup perusahaan Liberty Trading Group dan OptionSellers.com.
Namun pihaknya melihat ada dua faktor yang akan menekan harga minyak mentah hari ini. Selain itu ada indikasi aksi jual kontrak minyak akan berakhir. "Kami melihat perhatian pada kondisi pasokan akan kembali menjangkiti harga minyak," kata James.
Sejak pertengahan Juli, harga minyak turun hingga US$35 yakni 25% dari rekor tertingginya 11 Juli US$147,27. Penurunan ini akibat penguatan dolar AS terhadap mata uang kuat lainnya dan perekonomian Eropa dan Jepang yang meulai melempem mengikuti ekonomiAS sehingga mengurangi permintaan minyak.
Permintaan bensin rata-rata sebanyak 9,5 juta barel per hari dalam empat minggu terakhir atau 1,6% lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu, data EIA Rabu.
Analis Goldman Sachs pada Rabu menyatakan ketika kurs dolar AS terapresiai, akan ada korelasi positif terhadap harga minyak mentah. Selain itu masih ada faktor pendongkrak harga minyak selain mata uang.
"Kami melihat secara fundamental pasar minyak akan kembali menanjak," kata analis Goldman Sachs Giovanni Serio.
Kenaikan harga ini dipengaruhi adanya badai dan konflik politik, serta negara berkembang masih menaikkan permintaan energi dalam beberapa tahun ke depan. Sebagian besar analis memprediksi harga minyak masih akan kembali naik 60% tahun depan.
bisnis.com
Berita Lain
- Permintaan minyak jeblok, harga terendah 22 bulan
- India naikkan impor CPO dari Indonesia
- Minyak terendah sejak Januari 2007
- Minyak bangkit dari terendah 21 bulan
- Minyak turun lagi, pekan ini diduga di bawah US$50