Bisnis Indonesia Online » Harga » Komoditas


Rabu, 24/09/2008 08:13 WIB

Minyak terseret ketidakpastian bail out

oleh : Berliana Elisabeth S.

NEW YORK (Bloomberg): Harga minyak mentah naik tipis setelah kemarin malam turun untuk pertama kali dalam sepekan dipicu sikap skeptis akan rencana bail out (dana talangan) pemerintah AS terhadap perusahaan finansial dapat membantu pertumbuhan ekonomi dan permintaan bahan bakar.

Harga minyak kemarin anjlok 4,9% setelah para pembuat kebijakan mendebatkan bagaimana struktur penyelamatan perusahaan finansial itu akan langsung bermanfaat pada pasar secepatnya.

"Tampaknya dana senilai US$700 untuk rencana bail out tidak dapat secepatnya meningkatkan permintaan minyak karena konsumen terpukul karena kenaikan harga," kata Peter Beutel, president of Cameron Hanover Inc. di Stanford, Connecticut.

Untuk kontrak minyak mentah pengiriman November naik 42 sen menjadi US$107,03 per barel pada pukul 8:23 a.m waktu Sydney di bursa New York Mercantile Exchange. Harga sudah anjlok 27% dari rekor tertingginya US$147,27 per barel pada 11 Juli. Kemarin harga anjlok US$2,76 atau 2,5% menjadi US$106,61 per barel setelah menyentuh US$104,05.

Kontrak Oktober pada saat jatuh tempo bahkan sempat melonjak US$16,37 per barel pada 22 September dipicu trader yang sempat melepas kontrak ini pada pekan lalu ketika harga menyentuh di kisaran US$90, mereka kembali memborong kontrak. Commodity Futures Trading Commission (CFTC), badan pengawas berjanka AS, tengah menginvestigasi pergerakan transaksi para trader.

Persediaan minyak AS dan bahan bakar lainnya juga turun pekan lalu karena produksi terganggu di refineri Gulf of Mexico ditutup akibat Topan Gustav dan Ike.

Suplai minyak mentah turun 2,5 juta barel dari 291,7 juta barel, menurut hasil survei 12 analis sebelum Departemen Energi mengumumkan data pada pukul 10:35 a.m waktu Washington hari ini. Persediaan turun 14,2 juta barel periode empat pekan.

Menteri Keuangan Henry Paulson mendesak parlemen untuk menyetujui rencana bail out senilai US$700 miliar untuk mengatasi masalah krisis kredit di sektor finansial.

"Rencana Paulson tidak mendapat tanggapan positif, dia harus bernegosiasi dengan kongres dan administrasi sebelum mengantongo persetujuan, hal ini menyebabkan ketidakpastian pasar," kata Rick Mueller, director of oil markets Energy Security Analysis Inc. di Wakefield, Massachusetts.

Harga minyak dan komoditas lainnya juga terkoreksi ketika dolar AS menguat terhadap euro untuk pertama kali dalam lima hari. Komoditas melonjak pada 22 September ketika mata uang AS anjlok hingga penurunan terbesar sejak Januari 2001. Investor membeli kontrak komoditas yakni energi dan logam ketika dolar AS terdepresiasi untuk mengantisipasi risiko.

Dolar AS tertekan menjadi US$1,4667 per euro pada pukul 8:08 a.m. di Sydney dari US$1,4648 kemarin.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Bursa berjangka cocok bagi pemodal besar
  • Minyak naik tipis, namun masih di US$47
  • Bappebti gencar sosialisasi sistem resi gudang
  • Harga minyak sempat di bawah US$48

Komentar

Beri Komentar