Bisnis Indonesia Online » Harga » Komoditas
Senin, 06/10/2008 08:34 WIB
Minyak terhempas ke US$91, OPEC revisi produksi
oleh : Berliana Elisabeth S.
WELLINGTON (Bloomberg): Harga minyak mentah anjlok untuk keempat hari berturut-turut di New York dipicu kekhawatiran perlambatan ekonomi akan mengurangi permintaan.
Pasar minyak di dunia tengah kelebihan pasokan dan Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) akan meninjau ulang level produksinya untuk kuartal pertama 2009, kata Menteri Perminyakan Iran Gholamhossein Nozari pada 4 Oktober.
Saudi Aramco, perusahaan minyak terbesar di dunia yang dimiliki pemerintah, kemarin menurunkan harga jual untuk ekspor minyak jenis light sweet ke Amerika Serikat, konsumen terbesar di dunia.
"Saat ini para broker menurunkan pertumbuhan ekonomi AS dan harga komoditas secara umum. Pasar bergerak melambat hingga sembial bulan ke depan," kata Mark Pervan, senior commodity strategist Australia & New Zealand Banking Group Ltd. di Melbourne.
Harga minyak mentah untuk kontrak pengiriman November turun US$2,28 atau 2,4% menjadi US$91,60 per barel pada transaksi elektronik bursa New York Mercantile Exchange. Di Singapura diperdagangkan pada US$92 pada pukul 7:48 a.m.
Harga kontrak minyak mentah ini sudah anjlok menjadi US$93,88 per barel pada 3 Oktober, harga terendah sehak 16 September 2008 setelah DPR Amerika Serikat menyetujui RUU paket penyelamatan ekonomi AS (bailout) senilai US$700 miliar. Serta laporan Departemen Tenaga Kerja AS yang menyatakan angka pengangguran lebih tinggi dari perkiraan yakni sebesar 159.000 pada September.
Harga minyak di New York sudah terkoreksi 12% sepekan lalu ketika data permintaan bahan bakar AS terendah dalam tujuh tahun periode empat pekan terakhir dan manufaktur turun periode September, penurunan terbesar sejak resesi 2001.
Harga minuak brest untuk kontrak November turun 1,94% menjadi US$88,5 per barel.
bisnis.com
Berita Lain
- Harga komoditas terseret merosotnya minyak
- Nikel tertekan indikasi kelebihan pasok
- Tembaga sentuh level terendah sejak Mei 2005
- Minyak terus turun menuju era Irak serang Kuwait
- Permintaan emas di China stagnan