Bisnis Indonesia Online » Harga » Komoditas


Selasa, 07/10/2008 08:00 WIB

Minyak sentuh US$88 bahkan sempat terburuk 8 bulan

oleh : Berliana Elisabeth S.

DALLAS (Bloomberg): Harga minyak mentah naik untuk pertama kali dalam lima hari terakhir setelah indeks saham Amerika Serikat sedikit pulih dari keterpuruannya kemarin dipicu optimistis investor bahwa langkah pemerintah akan berhasil menyelamatkan perekonomian dari jurang resesi.

Minyak mentah naik dari level terendahnya sejak Februari 2008 setelah indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 430 poin dari posisi tengah hari dipicu spekulasi Federal Reserve akan memangkas suku bunga untuk melikuidkan pasar kredit. Meski Dow Jones sedikit puluh, indeks masih tetap berada di bawah level 10.000 untuk pertama kalinya dalam empat tahun.

"Kenaikan harga minyak mentah karena pasar saham mulai sedikit pulih dari penurunan terbesarnya pada awal transaksi. Pergerakan pasar saham langsung berhubungan dengan pasar minyak mentah. Namun investor mesti harus mengencangkan sabuk pengaman, karena jalan terjal belum selesai," kata Tim Evans, energy analyst Citi Futures Perspective di New York.

Harga minyak mentah untuk kontrak pengiriman November naik 1% menjadi US$88,72 per barel pada pukul 9:36 a.m waktu Sydney di bursa New York Mercantile Exchange (Nymex). Harga sudah anjlok 40% dari rekor tertingginya US$147,27 per barel pada 11 Juli 2008.

Kemarin, harga kontrak minyak mentah ini terhempas US$6,07 menjadi US487,81 per barel, bahkan sempat sentuh US$87,56, terendah sejak 7 Februari 2008. Penurunan harga ini akibat pemimpin Eropa berjanji untuk menyelamatkan sektor perbankan melalui bailout dan melindungi penabung, serta dolar AS menguat terhadap euro. Presiden OPES Chakib Khelil kemarin mengatakan harga turun akan terus berlanjut hingga tahun depan.

Harga minyak di New York anjlok 12% dalam sepekan ketika pemerintah AS melaporkan permintaan bahan bakar periode empat pekan mencapai level terendah tujuh tahun dan permintaan sektor manufaktur turun periode September hingga penurunan tertinggi sejak resesi 2001. Departemen Tenaga Kerja juga melaporkan penurunan tingkat upah lebih tinggi dari perkiraan yakni 159.000 pada September.

Melihat data perekonomian ini memberi sinyal resesi mulai menghadang, pasar minyak mentah akan langsung mengalami penurunan permintaan bahkan dalam waktu dekat akan menekan harga di bawah US$85 per barel dengan melihat kondisi perekonomian seperti ini," kata Christopher Bellew, senior broker Bache Commodities Ltd. di London.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Eskpor kapas India turun
  • Permintaan terus berkurang, minyak turun ke US$58
  • Ekspor kapas dari Inda diprediksi turun
  • Harga emas tertekan depresiasi rupiah

Komentar

Beri Komentar