Bisnis Indonesia Online » Harga » Komoditas
Rabu, 08/10/2008 08:29 WIB
Minyak kembali ke level US$89
oleh : Berliana Elisabeth S.
DALLAS (Bloomberg): Harga minyak mentah turun dipicu koreksi indeks saham di bursa Amerika Serikat dipicu spekulasi bak dan perusahaan real estate mulai kekurangan dana akibat krisis kredit sehingga akan menyebabkan ekonomi melempem dan permintaan energi turun.
Kemarin harga minyak sempat naik 2,6%, kenaikan pertamanya dalam sepekan. Turunnya indeks saham Standard & Poor's 500 hingga di bawah 1.000 untuk pertama kali sejak 2003 menjadi pemicu terkoreksinya harga minyak mentah pagi ini. Pimpiman Federal Reserve Ben S. Bernanke memberi sinyal untuk memangkas suku bunga acuan.
"Saat ini tampaknya situasi finansial global tidak ada yang melindungi, lari untuk mendapatkan uang tunai, seluruh aset finansial mulai likuid, semuanya dijual untuk memperoleh uang tunai," kata Kyle Cooper, analis IAF Advisors di Houston.
Harga minyak mentah untuk kontrak pengiriman November turun 0,9% menjadi US$89,24 per barel pada perdagangan elektronik di bursa New York Mercantile Exchange (Nymex) pada pukul 10:29 waktu Sydney.
Harga kontrak sudah turun 39% dari rekor tertinggi US$147,27 pada 11 Juli 2008. Kemarin harga naik US$2,25 menjadi US$90,06 per barel di New York.
Pasar modal terguncang, pasar finansial memburuk, pertumbuhan ekonomi melempem, dan permintaan bahan bakar berkurang. Kondisi ini menyebabkan harga minyak mentah terus turun.
Kemarin, anggota OPEC, organisasi negara-negara pengekspor minyak, menyatakan rencananya untuk memangkas produksi untuk mengatasi kejatuhan harga. Petinggi di perminyakan Libya dan Menteri Perminyakan Qatar mengatakan akan menurunkan produksi. Presiden Organization of Petroleum Exporting Countries Chakib Khelil mengatakan organisasi akan mengambil tindakan untuk menstabilkan pasar.
bisnis.com
Berita Lain
- Harga komoditas terseret merosotnya minyak
- Nikel tertekan indikasi kelebihan pasok
- Tembaga sentuh level terendah sejak Mei 2005
- Minyak terus turun menuju era Irak serang Kuwait
- Permintaan emas di China stagnan