Bisnis Indonesia Online » Harga » Komoditas


Jumat, 05/12/2008 07:58 WIB

Minyak terus turun menuju era Irak serang Kuwait

oleh : Berliana Elisabeth S.

NEW YORK (Bloomberg): Harga minyak mentah turun hingga US$43 per barel, level terendah Januari 2005, bahkan bensin turun hingga di bawah US$1 per galon dan resesi di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang menurunkan konsumsi.

Merrill Lynch & Co bahkan memprediksi harga berpotensi sentuh level US$25 per barel tahun depan jika kontraksi perekonomian di China. Sepekan ini harga minyak sudah terkoreksi 19%, penurunan terbesar sejak Maret 2003.

"Kami melihat AS, Inggris, Eropa dan Jepang sudah mengalami resesi yang pertama kali sejak perang dunia ke II, dan pasar minyak mulai bereaksi," kata Chip Hodge, managing director MFC Global Investment Management di Boston, pengelola dana asing senilai US$5 miliar berbentuk obligasi korporasi energi.

Harga minyak mentah untuk kontrak Januari naik 15 sen atau 0,3% menjadi US$43,82 per barel pada 11:12 a.m di Sydney hari ini untuk kontrak di New York Mercantile Exchange.

Kemarin malam di pasar AS harga turun US$3,12 menjadi 6,7% menjadi US$43,67 per barel, terendah sejak 5 Januari 2005. Harga sudah terhempas 70% atau US$105 dari rekor tertingginya US$147,27 pada 11 Juli 2008.

Harga bensin untuk kontrak pengiriman Januari naik 0,5 sen atau 0,5% menjadi US$0,9754 per galon di New York. Kemarin malam di pasar AS harga turun 7,2% atau 6,9% menjadi US$0,9695 per galon, level terendah sejak Oktober 2005.

"Saat ini belum ada tanda-tanda berhentinya penurunan harga. Kita sekarang melihat harga sentuh US$41,15, dan setelah itu akan terus turun menyentuh US$40 dan US$37," kata Tom Bentz, senior energy analyst BNP Paribas di New York.

Harga minyak menyentuh rekor pertama US$41,15 pada 10 Oktober 1990 ketika Irak menyerang Kuwait, posisi harga terus berlanjut hingga Mei 2004, lalu pada Juli 2004 harga mulai turun hingga di bawah US$40 per barel.

"Untuk sementara penurunan harga hingga di bawah US$25 per barel adalah mungkin terjadi kika resesi global semakin dalam hingga menembus China dan pemotongan produksi OPEC tidak mampu menahan laju penurunan harga ini," kata commodity strategist Merrill Lynch Francisco Blanch.

Dia menambahkan dalam jangka pendek, pasar minyak, pertumbuhan permintaan mulai terlihat terpukul ketika perbankan melanjutkan memangkas kredit konsumer dan korporasi.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Bappebti belum bisa gunakan resi gudang elektronik
  • BBJ cabut 13 anggota bursa
  • Harga baja merosot hampir 50%
  • Minyak melanjutkan penurunan dua harinya
  • Harga karet naik dalam 2 hari
  • Harga emas di Cikini stabil di kisaran tinggi
  • Kontrak emas di BBJ turun tajam
  • Minyak turun dari level tertinggi 5 pekan
  • Harga CPO di bursa KL naik dipicu ekspor

Komentar

Beri Komentar