JAKARTA (Bisnis.com): Nilai tukar rupiah terapresiasi atau menguat 9,99% selama triwulan II-2009 dipicu meningkatnya arus dana asing yang masuk ke pasar domestik. Namun ruang pelonggaran moneter semakin terbatas.
Kepala Biro Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Didy Laksmono R dalam siaran persnya seusai rapat dewan gubernur BI siang ini mengatakan faktor fundamental ekonomi yang tetap positif, pelaksanaan Pemilu yang berjalan lancar dan sentimen positif ekonomi global telah meningkatkan arus dana asing masuk ke pasar domestik.
Arus modal yang tetap positif, bersamaan dengan membaiknya ekspor berkontribusi positif pada kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Ke depan, perekonomian Indonesia pada tahun 2009 diproyeksikan tumbuh lebih baik dari perkiraan semula dengan laju inflasi yang terus menurun.
Pada siang ini kurs rupiah melemah 30 poin menjadi Rp10.205 per dolar AS menurut data IMQ pukul 13.45 WIB.
Menguatnya perekonomian negara mitra dagang telah memperbaiki kinerja ekspor Indonesia sehingga transaksi berjalan mengalami surplus US$2,2 miliar. Dari sisi permintaan domestik, konsumsi swasta diperkirakan masih dapat tumbuh cukup tinggi di atas 5% bersamaan dengan semakin rendahnya tingkat inflasi. Namun, dalam kondisi permintaan yang masih lemah dan tingkat utilisasi kapasitas yang masih rendah, kegiatan investasi masih terbatas. Mencermati perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi selama triwulan II-2009 diprakirakan berada dalam kisaran 3,7-4,0%.
Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia 2009 tumbuh dikisaran 3,5%-4,0%. Pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II-2009 tetap didukung oleh permintaan domestik, terutama konsumsi, bersamaan dengan rendahnya inflasi. Inflasi pada 2009 diproyeksikan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya bahkan berpotensi di bawah 5%, antara lain seiring dengan membaiknya ekspektasi inflasi dan terjaganya pasokan dan distribusi bahan makanan.
Bank Indonesia terus mencermati potensi tekanan inflasi pada 2010, termasuk potensi kenaikan harga komoditas dunia. Dalam konteks ini, kebijakan moneter ke depan diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara upaya mendorong perekonomian domestik dan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dalam jangka menengah. Dengan pertimbangan tersebut, ke depan kebijakan moneter akan dilakukan secara lebih berhati-hati mengingat ruang pelonggaran moneter semakin terbatas. Selain itu, Bank Indonesia bersama dengan pemerintah juga terus berkoordinasi untuk antisipasi berbagai dinamika yang berkembang dalam waktu dekat.
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »