JAKARTA (bisnis.com): Pergerakan rupiah hari ini cenderung terbatas terkait dengan antisipasi pelaku pasar yang cenderung menahan diri menjelang long weekend. Rupiah pagi ini dibuka melemah 20 poin menjadi Rp9.480.
Riset PT BNI Treasury Divison pagi ini menyebutkan bahwa pada Rabu (16/12) rupiah ditutup menguat tipis pada level 9.460 vs opening di level 9.470 setelah bergerak di kisaran 9.455 – 9.480.
Perolehan lelang SBI Rp52,749 triliun vs target Rp45 triliun & rebound IHSG mampu memberi energi positif penguatan rupiah di tengah tertahannya pergerakan USD menunggu FOMC Meeting.
Hari ini pergerakan rupiah diprediksi bergerak rangebound dengan kecenderungan menguat. Minimnya sentimen segar domestik potensi membatasi pergerakan rupiah di tengah antisipasi pelaku pasar yang
cenderung menahan diri menjelang long weekend.
Sementara itu, meski berada dalam tekanan, namun IHSG berpeluang melanjutkan penguatan oleh naiknya oil price ke level US$72/barrel hingga memberi sentimen positif pergerakan rupiah.
JPY hari Rabu (16/12) ditutup melemah pada level 89.78 vs opening di level 89.67 setelah bergerak dikisaran 89.36 – 89.98.
Optimisme The Fed atas kondisi perekonomian AS termasuk stabilnya inflasi dan membaiknya sektor housing mensupport penguatan dollar hingga yen tertekan.
Hari ini, yen diprediksi bergerak rangebound dengan kecenderungan melemah. Pasca The Fed, perhatian pelaku pasar tertuju pada BOJ yang memulai meetingnya hari ini dan diprediksi tetap hold rate di level 0.1% mengekor kebijakan The Fed yang mempertahankan FFR for an extended period di tengah berlanjutnya deflasi yang dialami Jepang.
Situasi ini cenderung dimanfaatkan eksportir untuk melepas proceed dollar hingga potensi membebani pergerakan yen.
Hari Rabu (16/12) Euro ditutup menguat terbatas di level 1.4536 vs opening di level 1.4534 setelah bergerak dikisaran 1.4503–1.4590.
Sementara itu, sterling juga ditutup menguat di level 1.6334 vs opening di level 1.6263 setelah bergerak di kisaran 1.6230–1.6411.
USD menguat terbatas paska FOMC meeting yang memutuskan hold rate di 0.25% sembari mengungkapkan optimisme ekonomi AS. Selain itu, pergerakan USD juga ditopang oleh naiknya building permit AS 584
k vs 551 k, housing start 574 k vs 527 k dan CPI AS 1.8% vs -0.2%.
Rilis kenaikan inflasi EZ 0.5% vs -0.1% dan membaiknya PMI manufacturing EZ 51.6 vs 51.2 mampu menahan pelemahan euro yang tertekan oleh penguatan USD.
Sementara anjloknya indikator claimant count unemployment change -6.3 k vs 5.9k, penurunan pertama sejak Feb 2008, yang mengindikasikan pulihnya sektor tenaga kerja, mampu sterling mendongkrak posisi sterling.
Hari ini, euro & sterling berpotensi untuk bergerak rangebound dengan kecenderungan melemah. Ekspektasi penurunan initial claim AS 465 k vs 474 k dan jobless continuous claim AS 5.15 m vs 5.157 m berpotensi semakin menambah energi penguatan USD.
Euro masih berpotensi tertekan ditengah outlook finansial dan perbankan EZ yang masih sangat rentan akan goncangan ekonomi di tengah minimnya data yang dirilis.
Sedangkan kenaikan unemployement rate UK 7.9% VS 7.8% menyiratkan ekspektasi stagnasi retail sales UK pada level 0,4% sehingga berpotensi membatasi pergerakan sterling.
Teknikal: stochastic slow sideways di area oversold, candle stick, bolinger band, parabolic SAR (euro) down trending mengindikasikan potensi konsolidasi hingga pelemahan euro & sterling.
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »