TOKYO (Bloomberg): Mata uang euro jatuh di level terendah dalam 8 bulan terakhir terhadap dolar, terkait spekulasi defisit anggaran di sejumlah negara Eropa yang akan membuat dinaikkannya suku bunga perbankan.
Euro mendekati level terendah dalam satu tahun terakhir terhadap yen, terkait risiko utang luar negeri dan pertemuan tingkat menteri keuangan negara yang tergabung Kelompok Tujuh pada akhir pekan, yang kemungkinan akan membuat kebijakan stimulus ekonomi. Melemahnya dolar Selandia Baru dan Australia di bursa Asia akan mengurangi permintaan aset ber-yield tinggi.
“Dengan meluasnya risiko utang luar negeri di zona euro, ketidaksukaan terhadap risiko akan berlanjut di pasar,” kata Susumu Kato, pimpinan economi untuk Jepang di Tokyo di Calyon Securities, satu unit Credit Agricole SA Prancis. “Investor khawatir isu finansial di negara kecil akan berdampak besar.”
Euro jatuh menjadi US$1,3647 pada pukul 09:01 di Tokyo dari US$1,3678 di New York pada 5 Feb., saat turun menjadi $1,3586, nilai terendah sejak 20 Mei. Euro turun menjadi 121,84 yen dari 122,09, setelah menyentuh 120,71 pada 5 Feb. nilai terendah sejak 24 Feb. Dolar pada 89,27 yen dari 89,25 yen.
Pimpinan keuangan G-7 bertemu di Iqaluit, Kanada, sebagai upaya mengamankan perbaikan ekonomi, di mana melebarnya defisit anggaran akan mengancam ekspansi masa depan. (mrp)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »