
JAKARTA (Bisnis.com): Rupiah menguat hingga kenaikan tertinggi sepekan ini dan menjadi mata uang dengan penampilan terbaik di Asia dalam 6 bulan terakhir dipicu aksi investor memburu portofolio domestik karena imbali hasilnya lebih tinggi.
Para investor berspekulasi dengan adanya kenaikan laju inflasi akan mendorong Bank Indonesia menaikkan BI Rate. Dengan demikian imbal hasil dari portofolio di Indonesia semakin kompetitif ketika fundamental ekonomi Indonesia juga mendukung.
Rupiah siang ini menguat 0,6% sepekan ini dan pada pukul 14.00 WIB rupiah terapresiasi 0,2% menjadi Rp9.155 per dolar AS menurut data IMQ, level terkuat sejak 15 Januari. Pada pekan lalu, 5 Maret, mata uang RI ini masih bertengger di level 9.215.
Bank Indonesia pada 4 Maret mempertahankan BI Rate di level 6,5% untuk ketujuh bulannya. Suku bunga Indonesia ini merupakan yang tertinggi di kawasan Asia setelah Pakistan dan Sri Langka.
Pada perdagangan kemarin, Kamis, rupiah ditutup menguat ke level 9.190 dari pembukaan di level 9.200 setelah bergerak di kisaran Rp9.170–Rp9.200 per dolar AS.
Head of Research Bank Negara Indonesia Rosady T.A. Montol mengatakan meredanya tekanan dolar di tengah kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang tetap membukukan kenaikan indeks mendukung pergerakan rupiah.
Namun data inflasi China memberi sentimen negatif pelemahan mata uang regional, hingga sedikit menahan laju penguatan rupiah.
Rosady menambahkan proyeksi BI bahwa pertumbuhan ekonomi 2010 memberi harapan semakin cerahnya perekonomian domestik. BI juga mensinyalir minimnya tekanan inflasi yang signifikan selama semester I/ 2010 yang mengindikasikan terkendalinya kisaran inflasi pada level 5%.
"Pergerakan rupiah diprediksi tetap disupport sentimen dari pasar saham domestik yang diprediksi bullish mengikuti irama bursa global dan regional serta tren kenaikan harga minyak dunia,” kata Rosady.
Rupiah sudah terapresiasi 8,2% dalam 6 bulan terkhir ketika surat utang berdenominasi rupiah juga berpenampilan terbaik diantara surat utang di 10 negara Asia, menurut HSBC Holding Plc, seperti dikutip Bloomberg.
Inflasi pada Februari menjadi 3,81% dari posisi Februari tahun lalu, lebih tinggi dalam sembilan bulan dipicu kenaikan harga makanan dan komoditas. Bank sentral menyatakan inflasi akan berada di rata-rata 4%-6% tahun ini, sedangkan pada tahun lalu rata-rata 2,78%.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono mengatakan pertumbuhan ekonomi akan didukung oleh permintaan domestik dan pemulihan ekonomi global. Bank sentral memprediksi pertumbuhan ekonomi mencapai 6% pada 2010. (wiw)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »