Bisnis Indonesia Online » Harga » Nilai Tukar


Kamis, 09/10/2008 09:02 WIB

'BI mesti kawal rupiah yang pagi ini terhempas 30 poin'

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): Rupiah pagi ini kembali terjungkal ke level 9.625 per dolar AS bahkan kemarin sempat sentuh 9.791 dipicu kepanikan investor akan anjloknya indeks saham akibat aksi jual saham besar-besaran sehingga transaksi di Burse Efek Indonesia dihentikan sementara.

Kursa rupiah pagi ini pukul 8:45 WIB menurut data televisi CNBC melemah 30 poin menjadi Rp9.625 per dolar AS dari posisi penutupan kemarin Rp9.595. Kemarin kurs bahkan sempat terjungkal ke 9.700-an ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) terjungkal 10,37% sehingga mengakibatkan otoritas bursa menghentikan sementara transaksi saham hingga kondisi membaik, ditargetkan besok pagi mulai dibuka.

Chief Economist PT Bank Danamon Tbk Anton H. Gunawan kepada Bisnis mengatakan Bank Indonesia perlu terus mengawal rupiah jangan sampai terjun bebas. Caranya dengan mengintervensi langsung ke pasar uang dengan menggunakan dana dari cadangan devisa, sama seperti yang sudah dilakukan bank sentral beberapa hari terakhir.

Jika BI menggunakan menaikkan suku bunga sebagai instrumen untuk menjaga kestabilan rupiah, Anton pesimistis itu dapat secepatnya berfungsi karena memerlukan waktu lebih panjang. "Kalau stabilisasi rupiah menggunakan kenaikan suku bunga, mau setinggi apa BI rate kita, selain itu efektifitasnya cukup lama. BI harus intervensi dengan cadangan devisa," kata Anton.

Menurut dia, selama rupiah terjaga, gejolak di pasar saham tidak akan mengjangkiti sektor riil. Dengan demikian pemerintah dapat menjadi fundamental ekonomi makro, yakni inflasi rendah, suku bunga yang semakin turun, kurs yang tetap stabil.

"Kalau BI tidak menjaga rupiah, bisa-bisa krisis di pasar modal lokal dan global dapat menginfeksi sektor riil kita. Kalau ini terjadi, kita bisa mencapai krisis yang sama seperti 1997. Jadi BI mesti fokus kawal rupiah," kata Anton.
 
Stabilisasi rupiah, lanjut Anton, juga dapat ditempuh dengan membuat koordinasi antara perusahaan baik milik pemerintah, swasta, pengusaha, BI, pemerintah untuk mengetahui waktu jatuh tempo pembayaran utang khususnya bedenominasi dolar AS.

"Setidaknya perusahaan BUMN harus berkoordinasi mengenai informasi jatuh tempo bayar utang," tutur Anton.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Rupiah pagi ini jeblok tembus 11.000
  • Rupiah masih akan di atas 10.000 per US$
  • Rupiah pagi ini 10.900 per dolar AS
  • Rupiah pagi ini 10.800 per dolar AS

Komentar

Beri Komentar