TOKYO (Bloomberg): Dolar AS dan yen melanjutkan penurunan atas euro setelah kenaikan penjualan sektor ritel AS dan turunnya klaim pengangguran memicu investor membeli aset dengan yield tinggi.
Euro mendekati penguatan mingguan terhadap dolar AS menjelang laporan dari Eropa dan AS hari ini mengenai kinerja industri. Ekonom memperkirakan penurunan yang terjadi akan makin melamban di Eropa dan keyakinan konsumen membaik di AS. Dolar Kanada dan krona Norwegia diperkirakan menguat atas dolar AS setelah minyak naik melebihi US$73 per barel kemarin untuk pertama kali dalam 7 bulan.
"Menyusul ekspektasi membaiknya perekonomian AS, penikmat risiko makin besar. Aliran dana tunai terbang masuk ke bursa, komoditas, dan mata uang dengan yield tinggi, beralih dari dolar AS dan yen," kata Masahide Tanaka, senior analis Mizuho Trust & Banking Co Tokyo.
Dolar AS diperdagangkan pada US$1,4108 per euro pada 8:07 a.m. di Tokyo, dari US$1,4108 di New York kemarin. Mata uang AS melemah 1% pekan ini. Euro dibeli pada posisi 137,77 yen, menguat dari 137,74. Adapun mata uang AS berada pada 97,64 yen dari 97,63.
International Monetary Fund (IMF) menaikkan estimasi pertumbuhan global pada 2010 menjadi 2,4% dari 1,9%. World Bank memprediksi perekonomian global menciut mendekati 3% tahun ini, dua kali lipat dari proyeksi Maret.
Pemerintah AS kemarin mengumumkan penjualan sektor ritel naik 0,5% bulan lalu dan klaim pengangguran anjlok pekan lalu ke level terendah sejak Januari. Produksi industri Eropa diperkirakan turun 19,8% pada April dari tahun sebelumnya, naik dari rekor penurunan 20,2% pada bulan lalu.
Sepanjang bulan lalu, dolar AS melemah 6,6% terhadap euro, penurunan bulanan terbesar tahun ini. Depresiasi ini disebabkan spekulasi kenaikan defisit anggaran dan bertambahnya jumlah uang beredar oleh Fed.(yn)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »