SINGAPURA (Bloomberg): Mata uang Asia menghadapi penguatan terbesar kuartalan sejak 2004 dipimpin rupiah dan won Korsel menyusul optimisme membaiknya perekonomian global yang memicu permintaan aset di emerging market.
Rupiah melanjutkan kemenangan kuartalan yang dimulai pada April 2008 menyusul optimisme Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan kembali memimpin bulan depan dan menerapkan kebijakan yang mendukung pertumbuhan di Indonesia. Won menguat setelah Kospi Index meraih kuartal terbaik dalam 2 tahun. Harga minyak dan CPO naik, mendongkrak kinerja eksportir komoditas termasuk Malaysia.
"Sebagian besar negara-negara bergerak seiring dengan tren membaiknya pemulihan yang seharusnya positif bagi pasar. Perekonomian turut bergerak, tidak fantastik, namun bursa saham dan pasar valas diperdagangkan dengan sentimen yang baik," ujar Yeo Chin Tiong, head of treasury OSK Investmnent Bank Bhd di Kuala Lumpur.
Rupiah menguat 0,6% menjadi Rp10.210 per dolar AS pada 9 a.m. di Jakarta, membawa reli tiga bulan menjadi 14,6%. Won menguat 0,5% menjadi 1.279,60 untuk kenaikan 8,1% sejakn 31 Maret. Ringgit bertambah 3,5% selama kuartal ini menjadi 3,5220 dan dolar Taiwan naik 3,3% menjadi NT$2,857.
Bloomberg-JPMorgan Asia Dollar Index, yang melacak 10 mata uang regional teraktif, menguat hampir 2,8% kuartal ini, terbesar sejak 2004. Investor menanamkan neto US$17,8 miliar tahun ini ke delapan bursa Asia, kecuali Jepang. Indeks MSCI Asia Pacific naik 29% sejak akhir Maret.
Dolar AS melemah 0,2% menjadi 95,89 yen dan melemah untuk hari keempat terhadap euro menjadi US$1,4115 setelah investor melirik aset dengan imbal hasil tinggi.
Pergerakan won dipengaruhi oleh keuntungan terbesar dalam empat tahun setelah sejumlah manufaktur lokal mengalami sedikit penurunan atas kinerja bisnis mereka.
"Angka-angka keyakinan naik secara pasti, namun mereka belum membandingkan dengan aktivitas sebenarnya," kata Patrick Bennett, analis valas Societe Generale SA, Hong Kong.
Ringgit menguat terbesar dalam 3 pekan seiring dengan reli bursa saham dan kenaikan harga komoditas sehingga mempercerah kinerja eksportir.
Tingginya harga CPO dan minyak mentah, yang menguasai 10% ekspor Malaysia, membantu mengakhiri penurunan penjualan ke luar negeri dalam 7 bulan. PM Najib Razak kemungkinan menerapkan insentif untuk menarik dana dari pihak asing.
Untuk dolar Singapura menguat 0,4% menjadi S$1,4490 atas dolar AS, peso Filipina juga naik 0,3% menjadi 48,182. Sebaliknya, baht Thailand melemah 0,1% menjadi 34,05 dan yuan tidak banyak berubah pada 6,8329.(yn)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »