Rupe & ringgit pimpin depresiasi di Asia

Sabtu, 11/07/2009 14:59:59 WIBOleh: M. Yunan Hilmi
SINGAPURA (Bloomberg): Rupe India dan ringgit Malaysia memimpin depresiasi mata uang Asia pekan ini setelah laporan mengenai penurunan permintaan produk global menghambat pemulihan perekonomian.

Rupe mengalami penurunan terbesar mingguan sejak Februari setelah pemerintah memproyeksi defisit anggaran makin melebar sampai level tertinggi dalam 16 tahun, seiring dengan bertambahnya belanja untuk menggenjot pertumbuhan. Mata uang Malaysia juga mengalami minggu terburuk dalam 5 bulan setelah ekspor dan produksi pabrikan berlanjut melemah selama Mei. Di sisi lain, order barang dagangan Jepang di luar perkiraan menciut pada Mei dan ekspor Taiwan melanjutkan penurunan berturut-turut 10 bulan pada Juni.

Rupe melemah 2,3% pekan ini menjadi 49,005 per dolar AS di Mumbai. Ringgit juga melemah 1,4% menjadi 3,5775 yang sempat mencapai level terendah pada 3,5855 pada 9 Juli. Won Korsel tertekan 1,3% menjadi 1.282,50 di Seoul.

Investor internasional melepas saham senilai US$365 juta dari pasar Asia di luar Jepang selama sepekan yang berakhir 8 Juli dipicu oleh kinerja ekspor AS yang meragukan. Bloomberg-JPMorgan Asia Dollar Index, yang mencatat pergerakan 10 mata uang utama Asia selain yen, mengalami penurunan dalam enam pekan.

Menkeu India Pranab Mukherjee pernah mengatakan defisit anggaran akan mencapai estimasi 6,8% dari GDP dalam setahun yang berakhir 31 Maret, terbesar sejak 1994. "Pasar masih khawatir atas dampak naiknya defisit terhadap aliran investasi," kata Ritwij Mahant, dealer valas pada IndusInd Bank Ltd.

Produk industri di Malaysia turun untuk bulan kesembilan pada Mei, menciut 11,1% dari tahun sebelumnya. Ekspor turun 30% bulan itu setelah pengapalan produk elektronik melambat.

Won Korsel mencatat penurunan mingguan terbesar dalam 4 bulan setelah indeks Kospi turun untuk hari ketiganya. Bank of Korea melaporkan outlook ekonomi terdorong oleh pemangkasan suku bunga, belanja stimulus, dan peningkatan permintaan ekspor.

Bank sentral menjelaskan perekonomian Korsel bakal menciut 1,6% pada 2009, lebih kecil dari penurunan April 2,4%. Pada 2010 diperkirakan mengalami ekspansi 3,6%, lebih tinggi dari ekspektasi awal 3,5%.

Rupian mengalami penguatan terbesar pekan ini di antara 10 mata yang aktif lainnya setelah sinyal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan pemilihan presiden.

Dolar Singapura melemah 0,6% pekan ini menjadi S$1,4623 per dolar AS. Dolar Taiwan tertekan 0,5% menjadi NT$33,05. Peso Filipina melemah tipis 0,45 menjadi 48,30 dan baht Thai tidak berubah pada 34,08.(yn)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
 

Komentar

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika