TOKYO (Bloomberg): Yen terancam berlanjut melemah terhadap euro menyusul sinyalemen perekonomian global memicu permintaan aset dengan imbal hasil tinggi.
Mata uang Jepang melemah terhadap 16 mata uang utama menjelang laporan mengenai penjualan sektor ritel AS hari ini yang diperkirakan naik untuk bulan kedua. Serta kemungkinan terjadi rebound atas keyakinan konsumen di AS.
Dolar Australia bergerak mendekati penguatan untuk pekan kedua terhadap dolar AS yang dipengaruhi oleh data ekspor China bakal naik untuk pertama kali dalam 13 bulan.
"Sentimen atas risiko menyebar seiring dengan pemulihan ekonomi global, dipimpin oleh China," kata Masahide Tanaka, analis senior Mizuho Trust & Banking Co Tokyo.
Yen diperdagangkan pada 130,01 per euro pada 8:20 a.m. di Tokyo, melemah dari 129,94 di New York kemarin. Dolar AS berada pada US$1,4727 per euro dari US$1,4732 kemarin. Mata uang AS bergerak menguat pada 88,27 yen dari 88,20 yen.
Dolar Australia diperdagangkan pada US$0,9160 dari US$0,9166 di New York kemarin.
Estimasi median 79 ekonom memperlihatkan penjualan ritel AS naik 0,6% pada November setelah naik 1,4% pada bulan sebelumnya. Departemen Perdagangan dijadwalkan mengumumkan kinerja sektor ini pada pukul 8:30 a.m. waktu Washington.
Indeks sentimen konsumen oleh Reuters/University of Michigan untuk Desember kemungkinan naik menjadi 68,8 dari 67,4 bulan sebelumnya. Standard & Poor’s 500 Index naik 0,6% kemarin di New York.
Mata uang Australia kemungkinan menguat untuk hari ketiga atas dolar AS dan hari kedua terhadap yen menyusul optimisme perekonomian China yang merupakan rekanan dagang terbesar.
Menurut perkiraan median 26 ekonom, ekspor China naik 1,4% pada November dari tahun lalu. Jika benar estimasi itu berarti kenaikan merupakan yang pertama sejak Oktober 2008.(yn)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »