Bisnis Indonesia Online » Harga » Valas


Selasa, 26/08/2008 08:55 WIB

Euro dan rupiah terdepresiasi pagi ini

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): Euro terdepresiasi untuk ketiga harinya terhadap dolar AS sebelum laporan tingkat kenyamanan berbisnis di Jerman keluar yang diprediksi anjlok hingga level terendah dalam tiga tahun pada periode Agustus ini.

Mata uang zona Eropa ini juga melemah terhadap yen Jepang untuk kedua harinya ketika trader berspekulasi European Central Bank, bank sentral Eropa, akan menaikkan suku bunganya tahun ini.

"Ini merupakan kesempatan yang baik bagi euro untuk melemah. Investor mulai berpekulasi euro kembali menguat setelah ECB menaikkan suku bunga," kata Tsutomu Soma, bond and currency dealer pada Okasan Securities Co di Tokyo seperti dikutip Bloomberg.

Kurs euro melemah menjadi US$1,414 per dolar AS pada pukul 9:30 a.m waktu Tokyo dari US$1,4754 kemarin malam di New York, bahkan sempat menyentuh US$1,4631 pada 19 Agustus, terendah sejak 20 Februari 2008. terhadap yen turut terdepresiasi menjadi 160,99, mendekati level terlemah tiga bulan 160,20 yen pada 21 Agustus. Dolar AS terhadap yen menguat tipis menjadi 109,41 yen dari 109,30.

Yen sendiri menguat menjadi 93,91 per dolar Australia dari 95,34 kemarin di Asia, terhadap dolar Selandia Baru juga terapresiasi 1,9% menjadi 76,32 setelah saham AS terkoreksi hingga level terendah satu bulan.

Investor mengurangi portofolio di negara berimbal hasil lebih tinggi dengan risiko besar, dengan beralih ke negara berimbal hasil lebih rendah, disebut carry trades setelah Credit Suisse Group mengatakan AIG akan merugi US$2,41 miliar kuartal ketiga 2008 karena rugi sektor kredit sehingga menyebabkan harga sahamnya anjlok hingga level terendah 13 tahun.

Suku bunga pinjaman Jepang sebesar 0,5%, Australia 7,25% dan Selandia Baru 8%.

Euro juga terdepresiasi 8% terhadap dolar AS sejak menyentuh rekor terkuatnya US$1,6038 pada 15 Juli. Pelemahan ini setelah ekonomi Eropa mencatatkan perlambatan pertumbuhan pada kuartal kedua tahun ini dan penurunan harga minyak mentah lebih dari 20% dari rekor tertinggi US$147,27 per barel pada 11 Juli.

Rupiah pagi ini kembali terdepresiasi 16 poin menjadi Rp9.171 per dolar AS setelah kemarin menyentuh Rp9.155 ditopang kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG). 

Naiknya kembali harga minyak ke level US$115 per barel memberikan sentimen negatif bagi rupiah. Namun bayang-bayang intervensi Bank Indonesia menjaga pergerakan mata uang RI diperkirakan akan menggiring kurs berada di bawah kisaran Rp9.150.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Yen berlanjut melemah pada 102 per dolar AS
  • Yen bisa capai level 95 per dolar AS
  • Won dan ringgit seret mata uang Asia
  • Won, Rp, dan peso terdepresiasi paling besar

Komentar

Beri Komentar