Bisnis Indonesia Online » Harga » Valas


Selasa, 23/09/2008 14:44 WIB

Won, Rp, dan peso terdepresiasi paling besar

oleh : M. Yunan Hilmi

HONG KONG (Bloomberg): Won Korsel, rupiah Indonesia, dan peso Filipina mengalami penurunan paling besar di antara mata uang Asia akibat spekulasi investor akan menghindari aset-aset emerging market akibat kekhawatiran AS tak mampu atasi resesi.

Rupiah dan peso melemah terbesar dalam pekan ini seiring dengan penurunan bursa regional dipicu ketidakpercayaan pasar atas rencana AS membeli aset bermasalah bank senilai US$700 miliar. Indonesia dan Filipina, menurut Standard & Poor's memiliki rating utang dalam bentuk valas tiga lebih di bawah investment grade. Sementara baht Thailand dan ringgit Malaysian menguat mengikuti melemahnya dolar AS.

"Dengan ketidakpastian menyelimuti rencana bailout AS dan ekspektasi hal itu tidak akan mudah mengatasi problem ekonomi di AS, pelaku pasar kembali merasa tidak tenang," kata Joey Cuyegkeng, ekonom ING Bank NV, Manila, hari ini.

Rupiah melemah 0,4% menjadi 9.329 per dolar AS pada 11.13 a.m di Jakarta. Peso juga melemah 0,6% menjadi 46,537 per dolar AS, dari 46,283 kemarin.

Henry Paulson mengajukan paket proposal ke Congress pekan lalu untuk menghindari ambruknya kredit setelah kebangkrutan Lehman Brothers Holdings Inc dan pengambilalihan American International Group Inc.

"Banyak pelaku pasar menjadi khawatir karena pemerintah AS sebenarnya butuh dana besar untuk menyelamatkan sistem finansialnya," ujar Masahiro Gao, vice president PT Bank Mizuho di Jakarta.

Won Korsel melemah di bawah level 1.150 untuk pertama kali dalam tiga hari, melanjutkan depresiasi sepanjang tahun ini menjadi 19%, akibat spekulasi aksi beli dolar AS oleh perusahaan minyak untuk membayar utang setelah kenaikan harga minyak. Minyak mentah untuk pengiriman November naik 6% menjadi US$109,37 per barel kemarin. Korsel merupakan negara Asia terbesar ketiga pengimpor minyak.

"Lompatan besar harga minyak berada di belakang melemahnya won. Permintaan untuk dolar AS sangat kuat," kata Lee Myung Hoon, dealer valas Industrial Bank of Korea Seoul.

Seoul Money Brokerage Services Ltd mencatat mata uang Korsel melemah 0,8% menjadi 1.149,80 per dolar AS. Won, yang mencapai 1.157,50 hari ini, menyentuh posisi terendah dalam empat tahun 1.166,20 pada 16 September.

Sebaliknya, baht Thailand menguat mencapai posisi tertinggi lebih dari satu bulan menyusul kejatuhan dolar AS. Baht juga berlanjut mencari titik support atas optimisme terpilihnya Perdana Menteri Somchai Wongsawat mampu atasi gejolak politik setelah masuk kantor pekan lalu.

"Baht merupakan salah satu mata uang terkuat dalam beberapa hari terakhir akibat dua faktor, yaitu melemahnya dolar AS akibat kekhawatiran rencana bailout dan, kedua, redanya situasi politik di negara itu," kata Tetsuo Yoshikoshi, analis valas Asia Sumitomo Mitsui Banking Corp di Singapura.

Baht menguat untuk hari keduanya, naik sampai 0,5% menjadi 33,69 terhadap dolar AS, tertinggi sejak 15 Agustus. Ringgit Malaysia juga menguat terhadap dolar AS sebesar 0,3% manjadi 3,4018.(yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Rusia kembali devaluasi rubel
  • Yen menguat pada 90,46 per dolar AS
  • Peso dekati level terburuk sejak 2000
  • Potensi rebound won dan rupee terbesar
  • Dolar AS relatif stabil atas euro dan yen
  • Dolar terlemah 13 tahun terhadap yen siang ini
  • Mata uang Asia mulai rebound atas dolar AS
  • Sentimen ekonomi Jerman tekan euro
  • Yen melaju ke level tertinggi atas US$

Komentar

Beri Komentar