Bisnis Indonesia Online » Harga » Valas


Kamis, 30/10/2008 09:02 WIB

Dolar Aussie catat penguatan terbesar atas US$

oleh : M. Yunan Hilmi

SYDNEY (Bloomberg): Dolar Australia mencatat penguatan terbesar dalam waktu satu pekan terakhir terhadap dolar AS sementara dolar Selandia Baru juga menguat setelah bank sentral AS dan China memangkas suku bunga sehingga mendorong minat investor terhadap aset-aset berimbal hasil lebih tinggi.

Mata uang-mata uang tersebut menguat terhadap dolar AS setelah Federal Reserve menurunkan suku bunga patokannya 50 basis poin menjadi 1% dan China, konsumen logam industri terbesar di dunia, juga melakukan hal yang sama. Semua juga menguat terhadap yen setelah harga-harga komoditas yang diekspor kedua negara tersebut melonjak.

"Aussie dan Kiwi juga pulih secara substansial dalam 24 jam terakhir. Pemangkasan 50 basis poin oleh Fed dan sebelum itu kita melihat sejumlah pemangkasan suku bunga oleh bank-bank sentral lain," kata Mike Symonds, kepala perdagangan valas Bank of New Zealand Ltd, Wellington.

Dolar Australia menguat di hari ketiga, dengan kenaikan 3,3% menjadi US$0,6714 pada pukul 10:20 di Sydney dari US$0,6498 di perdagangan Asia, kemarin petang. Mata uang tersebut menyentuh US$0,6798, tertinggi sejak 22 Oktober. Dolar Australia menguat 3,3% menjadi 65,36 yen dari 63,06 yen, kemarin. Dolar Selandia baru menguat 0,9% menjadi US$0,5826 dari US$0,5775 di Asia, kemarin. Mata uang tersebut tercatat di level 56,71 yen dari 56,03.

Mata uang Australia menguat setelah China, mitra perdagangan terbesar negara tersebut, menurunkan suku bunga pinjaman satu tahun menjadi 6,66% dari 6,93%, kemarin, yang merupakan penurunan ketiga dalam dua bulan terakhir. Bank sentral China mengungkapkan dalam satu pernyataan bahwa suku bunga deposito akan turun menjadi 3,60% dari 3,87%.

Federal Reserve memangkas sukubunga patokannya hingga menyamai level terendah dalam setengah abad terakhir, dengan maksud menanggulangi pelambatan ekonomi terburuk untuk AS di era pasca perang.

Mata uang Australia juga menguat setelah Ric Battellino, Deputi Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA), mengatakan perekonomian negara tersebut siap menghindari resesi dan "bayangan inflasi" diperkirakan akan membatasi jangkauan bank sentral untuk memangkas sukubunga pinjaman. "RBA memiliki satu tugas besar di depan untuk menurunkan inflasi dan hal ini dapat membatasi ruang untuk bermanuver dalam hal kebijakan moneter," kata Battellino di Sydney, hari ini.

Gubernur Glenn Stevens menurunkan suku bunga pinjaman sebesar 100 basis poin, bulan ini, yang merupakan reduksi terbesar sejak resesi 1992. Dolar Australia dan dolar Selandia baru mulai mengalami reli pada 28 Oktober setelah RBA membeli mata uangnya sendiri tiga hari berturut-turut. Aussie, julukan untuk mata uang Australia tersebut, anjlok pada 28 Oktober hingga US$0,6010, terendah sejak April 2003.(t01)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Rusia kembali devaluasi rubel
  • Yen menguat pada 90,46 per dolar AS
  • Peso dekati level terburuk sejak 2000
  • Potensi rebound won dan rupee terbesar
  • Dolar AS relatif stabil atas euro dan yen
  • Dolar terlemah 13 tahun terhadap yen siang ini
  • Mata uang Asia mulai rebound atas dolar AS
  • Sentimen ekonomi Jerman tekan euro
  • Yen melaju ke level tertinggi atas US$

Komentar

Beri Komentar