Bisnis Indonesia Online » Harga » Valas


Senin, 01/12/2008 16:51 WIB

Menjelang kunjungan Paulson yuan melemah

oleh : M. Yunan Hilmi

SHANGHAI (Bloomberg): Yuan berlanjut melemah atas dolar AS hari ini, terbesar dalam tujuh minggu, tiga hari menjelang kunjungan Menteri Keuangan AS ke China untuk membicarakan masalah perdagangan sementara pelaku pasar berspekulasi bank sentral ingin melemahkan mata uang untuk mendorong perekonomian.

People’s Bank of China menentukan suku bunga harian pada level terlemah sejak Agustus, setelah gencarnya tekanan agar mata uang terapresiasi sejak akhir Juli. Dua laporan menunjukkan sektor manufaktur China mengalami kontraksi mencapai rekor bulan lalu akibat resesi di AS, Eropa, dan Jepang menekan permintaan atas produk-produk China.

Pengambil keputusan di China telah mengubah fokus dari mempertahankan inflasi menjadi menjaga kestabilan pertumbuhan setelah pertumbuhan ekonomi tercatat paling lambat sejak 2003 pada kuartal ketiga. Yuan menguat sebesar 0,4% atas dolar AS sejak dua negara itu mengadakan pertemuan dagang medio Juni. Selanjutnya, yuan menguat sampai 6,6% pada paruh pertama tahun ini.

"Perkembangan rate hari ini benar-benar tak terduga. Bank sentral mungkin saja ingin mengetes respons pasar atas melemahnya yuan, namun kemungkinan besar bank sentral akan menstabilkan mata uang sampai dengan akhir tahun," kata Yang Lindong, trader valas Shenzhen Development Bank Co di Shenzhen.

Yuan melemah 0,3% menjadi 6,8570 per dolar AS, terendah sejak 27 Oktober sebelum diperdagangkan pada 6,8563 pada pukul 2:24 p.m. di Shanghai, dari 6,8349 pekan lalu. China Foreign Exchange Trade System menyebutkan penurunan hari ini merupakan yang terbesar sejak 10 Oktober.

Pertemuan putaran kelima, Strategic Economic Dialogue, antara AS dan China akan diadakan pada 4-5 Desember di Beijing. Putaran sebelumnya diadakan di Annapolis, Maryland pertengahan Juni. Pada 24 Oktober, Barack Obama mengimbau akan manipulasi yuan diakhiri.

"Paulson kemungkinan akan meminta agar yuan makin diperkuat, naik China dipastikan akan menerapkan kebijakan valas berdasarkan kondisi fundamental ekonomi. Seiring dengan makin memburuknya perekonomian, risiko depresiasi makin besar," kata Liu Dongliang, analis valas China Merchants Bank Co, bank terbesar keenam di negara itu.

Apresiasi yuan sudah mencapai 21% sejak di-peg atas dolar AS pada Juli 2005. Hal ini membuat produk ekspor China kurang menarik dan menggerus laba para eksportir. Dua pertiga eksportir mainan China tutup selama sembilan bulan tahun ini.(yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Rusia kembali devaluasi rubel
  • Yen menguat pada 90,46 per dolar AS
  • Peso dekati level terburuk sejak 2000
  • Potensi rebound won dan rupee terbesar
  • Dolar AS relatif stabil atas euro dan yen
  • Dolar terlemah 13 tahun terhadap yen siang ini
  • Mata uang Asia mulai rebound atas dolar AS
  • Sentimen ekonomi Jerman tekan euro
  • Yen melaju ke level tertinggi atas US$

Komentar

Beri Komentar