Drajat: Perbankan jadi pembina usaha
Minggu, 28/06/2009 19:55:50 WIBOleh: Ratna Ariyanti
BANDUNG (Bisnis.com): Dradjat Wibowo, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jusuf Kalla, mengatakan dalam skema modal usaha mandiri untuk pemuda (Mampu), pihak perbankan tidak hanya bertindak sebagai agen penyalur bantuan permodalan, tetapi lebih sebagai pembina usaha.
"Jika nasabah maju, bank juga diuntungkan karena basis nasabahnya lebih banyak dan berkualitas," ujarnya kepada Bisnis.
Pasangan calon presiden dan wakil presiden Jusuf Kalla dan Wiranto meluncurkan modal usaha mandiri untuk pemuda (Mampu) sebesar Rp3 juta hingga Rp20 juta per orang.
Peluncuran program tersebut dilakukan pada kampanye terbuka Kalla-Wiranto di Lapangan Gasibu, Bandung, pada sore tadi.
Kalla mengatakan program, yang akan dijalankan jika ia terpilih sebagai orang nomor satu di Republik ini, disalurkan untuk lulusan Sekolah Menengah Umum(SMU), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), pesantren, perguruan tinggi, pemuda putus sekolah, dan korban pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dradjat, yang ditemui seusai mendampingi pasangan Kalla-Wiranto, menambahkan bank-bank badan usaha milik negara (BUMN), bank syariah, dan bank pembangunan daerah (BPD) akan diprioritaskan menjadi bank pembina.
Jalur penyaluran bantuan juga direncanakan untuk dilakukan melalui bank perkreditan rakyat (BPR), BPR Syariah, dan Baitul Maal wat Tamwil (BMT).
Dradjat, ekonom yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Komisi XI dari Fraksi Partai Amanat Nasional, menuturkan bahwa pembinaan usaha bagi pemuda yang menjadi nasabah Mampu menjadi komponen paling dominan.
Bantuan permodalan ini bersifat modal bergulir. Jenis usaha yang akan menjadi target penyaluran bantuan tidak dibatasi. Agunan dalam skema bantuan Mampu tidak diperlukan.
Nilai modal diberikan sebsar Rp 3-20 juta per nasabah dengan masa pengembalian antara 3 sampai 10 tahun dan bunga atau ekuivalen bagi hasil-nya di bawah 5%. Selisih bunga akan dibayar oleh APBN.
"Skema penjaminan kredit tapi minimal moral hazard juga dikembangkan. Jika sdh brjalan penuh, nilai kreditnya bisa Rp 16,5 triliun setahun termasuk fee bagi bank," kata Dradjat.(nn)