
SURABAYA (bisnis.com): Penghimpunan premi PT (Persero) Asuransi Ekspor Indonesia di Surabaya selama lima bulan pertama 2009 capai Rp1,13 miliar naik 80,56% dibanding periode sama 2008 sebanyak Rp625,5 juta.
Tren kenaikan premi asuransi tersebut terlihat sejak memasuki bulan kedua 2009 dan terjadi lonjakan tertinggi pada April 2009 yang naik 229,2% dibanding bulan yang sama tahun lalu yang hanya Rp114 juta. Sementara pada Januari pencapaian premi itu sempat merosot 15,59% atau hanya mencapai Rp144,8 juta dibanding bulan yang sama tahun lalu sebesar Rp170,7 juta.
Namun menurut Kepala Cabang PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) Surabaya Mahendra Sunaryo pencapai premi sebesar itu masih tergolong rendah dibandingkan target yang ditetapkan secara nasional. Tahun ini target premi yang dibebankan kepada kantor cabang ASEI Surabaya yang membawahi wilayah kerja Jawa Timur dan Bali tercatat Rp3,5.miliar.
Menurut dia pertumbuhan premi asuransi ekspor yang cukup signifikan itu belum dibarengi dengan pengingkatan kesadaran eksportir untuk memanfaatkan jasa asuransi bersangkutan. Dari jumlah perusahaan ekspor pemegang polis kenaikannya relatif sangat kecil yakni dibawah !%. Sebagian besar merupakan perseroan menengah seperti Maspion,
Selain itu krisis keuangan global juga turut mempengaruhi penggunaan asuransi oleh eksportir. Pasalnya dalam kondisi krisis seperti sekarang ini pemerintah justru menyarankan untuk menggunakan LC (Latter of credit) khususnya untuk komoditas tertentu yang harganya rentan berfluktuasi. "Memang peran keduanya serupa yakni untuk mengantisipasi gagal bayar," ujar Mahendra di Surabaya.
Jika tidak ada krisis global, lanjut dia, seharusnya tren perlindungan gagal bayar ekspor itu mengarah ke non LC. Hanya, kata dia, selama ini eksportir Indonesia lebih familier dengan LC sementara ASEI sendiri belum banyak melakukan promosi sehingga tidak banyak pengusaha yang mengetahuinya.
Dia berharap lewat kerja sama antara ASEI dan Bank Mandiri secara nasional dimana seluruh diskonto target ekspor tersebut akan diasuransikan ke ASEI akan dapat mendongkrak pertumbuhan pemegang polis. Termasuk didalamnya kenaikan jumlah premi.
Soal tarif premi menurut dia cukup bersaing. Rata-rata nilainya sekitar 0,3% dari setiap total nilai ekpornya. "Jadi secara umum rate preminya gak jauh beda dengan asuransi serupa di luar negeri karena kami sering tukar informasi termasuk masalah pemilihan perusahaan untuk reasuransinya," tutur dia. (dj)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »