SURABAYA (Bisnis.com): Pelaku industri asuransi jiwa di Indonesia memproyeksikan total aset usaha perasuransian tersebut bakal melewati Rp160 triliun menyusul peningkatan animo masyarakat memiliki polis asuransi jiwa sepanjang semester pertama 2010.
Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Evelina Fadil Pietruschka tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asuransi kini semakin besar.
Setidaknya, menurut dia, ada dua kecenderungan dari masyarakat untuk memiliki polis asuransi jiwa. Pertama faktor kebutuhan terhadap produk asuransi yang terkait dengan investasi jangka panjang. Kedua pentingnya pertanggunan kesehatan dan pendidikan.
"Masyarakat mulai sadar untuk memiliki perencanaan keuangan keluarga di masa mendatang," ujar Eveline di sela-sela acara CSR WanaArtha Life di Surabaya kemarin.
Itu sebabnya, lanjut dia, AAJI optimistis pertumbuhan aset industri asuransi tersebut akan semakin signifikan, kendati dari segi jumlah perusahaan, tambahnya, relatif stagnan yakni di kisaran 45 perusahaan. Namun perkembangan bisnis usaha bersangkutan semakin meluas.
Sampai dengan kuartal pertama 2010 total aset industri Rp145 triliun, naik Rp40 triliun dibanding dengan posisi Desember 2009 sebesar Rp105 triliun.
Selain pertumbuhan aset, lanjut Evelina, pendapatan premi industri tersebut juga bakal meningkat tajam. Pasalnya jumlah penghimpunan premi semakin besar. Ditambah lagi dengan kecenderungan nasabah untuk memperpanjang polis yang sudah melewati jatuh tempo.
"Umumnya dari kalangan muda yang memiliki edukasi tinggi dan perpendapatan cukup memiliki antusias yang besar terhadap produk asuransi jiwa yang terkait dengan investasi, " tuturnya.
Berdasarkan catatan AAJI sejak Januari-.Maret 2010 jumlah tertanggung di masyarakat Indonesia telah mencapai lebih dari 34 juta orang. Sementara itu hasil protofolio pendapatan investasi asuransi jiwa per akhir kuartal I 2010 mencapai Rp17,3 triliun naik 28,2% dibanding Januari Maret tahun lalu.
Eveline optimis dengan melihat perkembangan bisnis asuransi tahun ini serta membaiknya kondisi perekonomian nasional lembaga keuangan non bank ini akan mampu membukukan aset sebesar Rp500 triliun pada akhir 2015. Dengan harapan industri tersebut akan dapat menyerap tenaga kerja lebih dari 500.000 orang.(htr)