Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Asuransi & Dana Pensiun
Jumat, 05/12/2008 16:29 WIB
Premi Equity Life diprediksi tumbuh 25%
oleh : Roberto Purba
BANDUNG (Bisnis.com): PT Equity Life Indonesia memproyeksikan pertumbuhan premi minimal 25% pada 2009 di tengah bayang-bayang krisis finansial global.
Samuel Setiawan, Presiden Direktur PT Equity Life Indonesia, mengatakan proyeksi itu didasarkan pada keyakinan bahwa perusahaan asuransi Indonesia dinilai lebih siap menghadapi krisis finansial global yang terjadi saat ini.
“Perseroan memiliki pengalaman dalam menghadapi krisis tahun 1998, sehingga yakin mampu mendorong pertumbuhan premi dalam situasi krisis saat ini,” ujarnya seusai peresmian kantor cabang Bandung, kemarin.
Dia mengatakan hingga akhir November 2008, perseroan mencatat pertumbuhan premi sekitar 30% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Namun Samuel enggan menyebutkan nominal perolehan premi perseroan selama 11 bulan pertama tahun ini.
Menurut dia, krisis yang terjadi saat ini tidak secara otomatis memukul pertumbuhan industri asuransi. Bahkan, beberapa perusahaan asuransi memanfaatkan momentum krisis untuk menggenjot pertumbuhan premi.
“Berdasarkan pengalaman krisis 10 tahun silam, masyarakat cenderung membutuhkan proteksi sekaligus instrumen investasi untuk menghadapi gejolak ekonomi,” katanya.
Dia menuturkan gejolak yang menimpa pasar modal juga diperkirakan tidak akan terlalu mempengaruhi minat masyarakat membeli produk asuransi plus investasi (unit linked).
Samuel menyatakan produk unit linked merupakan instrumen investasi jangka panjang, sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh gejolak yang terjadi sesaat.
“Kami perkirakan perolehan premi pada tahun depan dari produk unit linked masih lebih tinggi dibandingkan dengan produk tradisional,” katanya.
Hingga akhir November 2008, komposisi perolehan premi Equity Life secara nasional masih didominasi oleh produk unit linked, yaitu sekitar 70% dari total pendapatan premi.
Sisanya, berasal dari penjualan produk-produk tradisional.
Di samping itu, menurut Samuel, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan akibat krisis finansial global diduga tidak akan mengganggu pertumbuhan industri asuransi.
Menurut dia, PHK yang terjadi tidak secara otomatis membuat pemegang polis menghentikan kontrak polis.
“PHK itu belum tentu membuat masyarakat tidak mendapat pekerjaan lagi. Artinya masih ada peluang bagi pemegang polis untuk tetap membayar premi,” ujarnya.
Berdasarkan catatan perseroan, pemegang polis yang berasal dari golongan korporasi lebih banyak dibandingkan dengan pemegang polis individu.
Total pemegang polis dari kalangan korporasi sekitar 900 perusahaan, dengan jumlah pemegang polis 800.000 karyawan, sedangkan pemegang polis secara nasional 40.000 nasabah. (ln)
bisnis.com
Berita Lain
- Jasindo bentuk Unit Usaha Takaful
- Thailand siapkan stimulus US$8,6 miliar
- Jasa Tania raup premi Rp122,8 miliar
- AIG mulai jual aset di Filipina
- Asuransi Sinar Mas 'digoyang' klaim kebakaran