Respons kebijakan moneter masih diperdebatkan

Selasa, 09/02/2010 18:36:43 WIBOleh: Erna Sari Ulina Girsang
SYDNEY (Bloomberg): Respons bank sentral mengatasi risiko yang mengganggu stabilitas sektor keuangan melalui kebijakan moneter masih diperdebatkan sehingga belum ada satu kebijakan yang paling tepat untuk mencegah krisis dan sesuai bagi semua negara.

Gubernur bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia) Glenn Stevens mengatakan potensi ketidakseimbangan yang terus berkembang memberikan makna bahwa pembuat kebijakan tanpa sadar mengeluarkan aturan yang dapat mendorong krisis.

"Pernyataan ini bukan untuk menekan kembali pasar keuangan, tetapi menyadarkan bahwa pasar memerlukan aturan, batasan, dan pengawasan yang berhati-hati, sehingga kegagalan dan kerugian dapat dikurangi," jelas Steven dalam pernyataan tertulis pada pertemuan bankir bank sentral, hari ini.

Di tempat yang sama, Bank for International Settlements mengatakan akan menetapkan standar modal minimum perbankan di 27 negara dan kawasan untuk menindaklanjuti usulan agar bank mencadangkan aset likuid yang dapat digunakan pada masa krisis.

Desember 2009, BIS mengusulkan peningkatan jumlah ekuitas dan pendapatan yang ditahan guna memperbaiki kemampuan bank mengatasi kegagalan kredit. Modal inti bank harus dipisahkan dari saham hak deviden untuk mengurangi risiko pada sistem keuangan.

"Persyaratan modal adalah batasan bagi perbankan. Cadangan dimasukkan ke pos tertentu guna mengatasi kerugian," ujar Jaime Caruana, Pemimpin Bank for International Settlements, juga dalam pidato tertulis.

Caruana menjelaskan ledakan krisis keuangan sangat memengaruhi perekonomian. Ketidakstabilan kebijakan akan menyebabkan kegagalan dari dalam sistem. Kondisi ini akan menimbulkan kerugian yang sulit diperhitungkan.(yn)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
 

Komentar

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika