Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional


Jumat, 18/07/2008 11:35 WIB

Qantas Airways akan PHK 1.500 karyawan

oleh : Elsya Refianti

CANBERRA (Bloomberg): Qantas Airways Ltd, maskapai penerbangan terbesar Australia, akan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 1.500 orang karyawannya di seluruh dunia agar dapat bertahan di tengah tingginya harga bahan bakar.

Perusahaan penerbangan itu akan memangkas sekitar 4% dari jumlah karyawannya dan juga membatalkan rencana perekrutan karyawan tambahan sebanyak 1.200 orang, kata perusahaan itu dalam pernyataannya kepada bursa saham Australia, hari ini. Qantas juga akan mengistirahatkan 22 unit pesawatnya.

Kebijakan Qantas itu mengikuti langkah serupa yang ditempuh AMR Corp.'s American Airlines, Delta Air Lines Inc dan SAS Group's Scandinavian Airlines, akibat harga bahan bakar yang mencapai rekor menggerogoti pendapatan perusahaan. Kerugian dialami industri di seluruh dunia berjumlah lebih dari US$6,1 miliar pada tahun ini, terburuk sejak 2003, ungkap International Air Transport Association.

"Ini bukan merupakan PHK yang terakhir," kata Tom Elliott, Direktur Pelaksana di MM&E Capital Ltd, pengelola dana $150 juta yang berlokasi di Melbourne.

Saham Qantas menguat 2,4% menjadi A$3,38 dan diperdagangkan pada level A$3,31 pada pkl. 12:35 di Sydney. Saham perusahaan itu telah  melemah 39% pada tahun ini, sementara indeks S&P/ASX 200 turun 23%.

Maskapai penerbangan itu akan memangkas jumlah pekerja pendukung pada kantor manajemen dan pusat sekitar 20%. Perusahaan itu juga akan membekukan pembayaran gaji eksekutif dan berpeluang menaikkan tarifnya lebih lanjut.

Pendapatan Qantas diperkirakan bakal anjlok sekitar 47% pada tahun yang berakhir Juni 2009, kata estimasi lima analis yang dihimpun Bloomberg.

Sebagai bagian dari upaya untuk menaikkan efisiensi bahan bakar, maskapai penerbangan itu menambah jumlah pesawat baru. Perusahaan yang berbasis di Sydney itu juga telah mengurangi sebagian rutenya, mengistirahatkan sejumlah pesawat, dan mengumumkan potensi penjualan bisnis penerbangannya.

Harga bahan bakar jet telah naik hampir menjadi dua kali lipat dalam setahun terakhir, dan sempat menyentuh rekor di US$181,85 per barel pada 3 Juli di Singapura, ungkap data Bloomberg. Bahan bakar jet dijual seharga US$166,15 per barel kemarin.

Selain itu, Qantas juga tengah bermasalah dengan serikat pekerjanya dalam upaya menekan biaya. Maskapai itu kemarin mencapai satu kesepakatan dengan para pilot, berupa kenaikan upah 3% per tahun selama lima tahun ke depan.

Qantas mempekerjakan sekitar 36.000 karyawan pada jaringan kerjanya yang mencakup 140 destinasi di 37 negara, ungkap situsnya.(er)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Inflasi Jepang melebihi 2% untuk pertama kali
  • Malaysia diperkirakan pangkas pendapatan pajak
  • Laba bersih Esprit naik 25%
  • Thailand kembali naikkan bunga acuan

Komentar

Beri Komentar