Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional


Selasa, 19/08/2008 15:16 WIB

Bank sentral Jepang pertahankan suku bunga 0,5%

oleh : Berliana Elisabeth S.

TOKYO (Bloomberg): Bank of Japan (BoJ) pesimis terhadap prospek perekonomiannya sehingga memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya pada level 0,5%.

"Pertumbuhan ekonomi melempem akibat tingginya harga energi dan bahan pangan serta berkurangnya ekspor," kata Gubernur BoJ Masaaki Shirakawa dan enam dewan gubernur lainnya dalam pernyataan usai pertemuan hari ini yang memutuskan suku bunga bertahan pada level 0,5%.

Pertumbuhan ekonomi terbesar kedua dunia ini tergerus per tahunnua 2,4% pada kuartal kedua 2008, ketika inflasi melonjak hingga level tertinggi dalam satu dekade sehingga belanja dan ekspor ke pasar global turun. Pada April, bank sentral sepakat menaikkan suku bunga untuk mengatasi resesi di Jepang. Para ekonom memprediksi suku bunga kredit baru akan naik pada awal tahun depan.

"Saat ini pusat perhatian pada sejauh mana penurunan berlanjut. Perekonomian tampaknya belum akan pulih hingga 2010, dengan demikian suku bunga belum akan naik," kata Hiroaki Muto, senior economist Sumitomo Mitsui Asset Management Co. di Tokyo.

Pasar finansial tidak stabil, dipicu ekonomi AS dan global yang melambat, kenaikan harga komoditas menghantui ekonomi Jepang, kata bank sentral Jepang.

Shirakawa mengatakan ketika pertumbuhan ekonomi melempem untuk beberapa waktu terakhir, diperkirakan akan kembali membaik meski perlahan ketika harga komoditas mulai mereda dan ekonomi global pulih.

Yen ditransaksikan pada level 109,74 per dolar AS siang ini, bandingkan dengan level sebelum diumumkannya keputusan suku bunga BoJ yakni 109,80. Yield obligasi negara bertenor 10 tahun naik setengah basis poin menjadi 1,445%.

Analis tidak mengantisipasi bank akan menurunkan suku bunga pinjaman karena Shirakawa mengkhawatirkan penurunan suku bunga tidak dapat menstimulasi pemulihan ekonomi lebih cepat.

BoJ bulan lalu memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun yanng berakhir Maret menjadi 1,2$ dari 1,5% karena lonjakan harga komoditas menghambat pertumbuhan.

Kenaikan harga energi dan bahan pangan memukul sektor bisnis dan konsumen Jepang karena hampir seluruh kebutuhan minyaknya di impor dan 60% impor pangan. Harga konsumen kecuali makanan segar menanjak 1,9% pada Juni dari Juni tahun lalu, tercepat dalam satu dekade. Harga bahan bakar sektor bisnis meroket 7,1% pada Juli, tertinggi kedua sejak krisis minyak 27 tahun lalu.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Cadangan devisa China tembus US$2 triliun
  • Para bankir di Eropa tak akan dapat bonus
  • Korsel terima US$4 miliar dari Federal Reserve
  • Bursa saham Eropa jatuh

Komentar

Beri Komentar