Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional


Senin, 25/08/2008 09:45 WIB

Penjualan rumah AS dekati terendah 10 tahun

oleh : Elsya Refianti

WASHINGTON (Bloomberg): Penjualan rumah AS berpeluang mendekati terendah dalam 10 tahun, sementara itu anjloknya nilai properti dan lesunya belanja konsumen mengindikasikan ekonomi memburuk.

Hal itu diprediksikan akan terlihat pada laporan yang akan dirilis pekan ini. Pada Juli lalu penjualan rumah baru dan bekas sebesar 5,435 juta unit per tahun, ungkap perkiraan tengah para ekonom yang disurvei Bloomberg News. Tingkat penjualan rumah yang 5,39 juta unit pada Juni merupakan yang terendah sedikitnya sejak 1999. Belanja diduga naik 0,3% pada Juli atau separuh dari kenaikan bulan sebelumnya.

Pembelian rumah baru di AS tertekan 0,9% ke tingkat 525.000 per tahun, kata perkiraan tengah ekonom untuk data Departemen Perdagangan AS yang akan dirilis 26 Agustus. Tingkat penjualan 513.000 pada Maret merupakan yang terendah sejak 1991.

Penjualan rumah bekas naik 1% menjadi 4,91 juta per tahun, atau tetap mendekatii terendah 10 tahun yang dicapai Juni lalu, kata perkiraan tengah survei itu. Penjualan rumah bekas tercatat memberi kontribusi 85% di pasar AS.

Keterpurukan permintaan membuat nilai properti berada dalam tekanan. Indeks S&P/Case-Shiller untuk harga rumah di 20 wilayah metropolitan kemungkinan tertekan pada Juni, prediksi hasil survei itu.

Data Departemen Perdagangan AS yang akan dirilis pada 29 Agustus diproyeksikan akan menimbulkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi. Indeks harga yang terkait erat dengan pola belanja kemungkinan naik 4,5% pada tahun yang berakhir pada Juli, kenaikan terbesar dalam 12 bulan sejak 1991.

Indeks yang tidak mencakup pangan dan biaya energi yang dilacak oleh pembuat kebijakan Federal Reserve, kemungkinan naik 2,4% dibandingkan setahun lalu, atau kenaikan terbesar sejak Februari 2007, kata survei itu.

Kekhawatiran mengenai melambatnya pertumbuhan dan kenaikan harga memotori pembuat kebijakan the Fed menahan tingkat suku bunga patokan pada level 2% pada bulan ini.

Lonjakan ekspor menyebabkan ekonomi tumbuh lebih cepat pada triwulan kedua dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya. Data yang direvisi dari Departemen Perdagangan yang akan dirilis pada 28 Agustus, bakal menunjukkan ekspansi ekonomi  pada tingkat 2,7% per tahun pada April hingga Juni, atau naik dari estimasi awal 1,9% yang dikeluarkan bulan lalu, kata perkiraan tengah survei itu.(er)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Cadangan devisa China tembus US$2 triliun
  • Para bankir di Eropa tak akan dapat bonus
  • Korsel terima US$4 miliar dari Federal Reserve
  • Bursa saham Eropa jatuh

Komentar

Beri Komentar