Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional
Selasa, 26/08/2008 12:02 WIB
Filipina catat percepatan impor 12,7%
oleh : Taufik Wisastra
MANILA (Bloomberg): Impor Filipina mencatat percepatan pertama kali dalam lima bulan pada Juni, sementara lonjakan harga minyak memperbesar defisit perdagangan negara itu.
Pembelian dari luar negeri naik 12,7% dari setahun sebelumnya menjadi US$5,3 miliar setelah mencatat peningkatan 10,9% pada Mei, menurut Kantor Statistik Nasional hari ini. Kenaikan impor 12,7% itu merupakan yang tercepat sejak Februari.
Kenaikan harga minyak mendorong inflasi di negara itu yang mengimpor hampir semua minyak mentahnya. Kenaikan defisit perdagangan bakal memperburuk depresiasi peso. Keadaan ini menjadikan impor lebih mahal setelah harga minyak, beras dan komoditas lain mencatat rekor tahun ini.
"Kita menyaksikan lonjakan harga minyak, kemudian kenaikan inflasi yang berdampak pada permintaan konsumen dan bisnis," ujar Song Seng Wun, ekonom pada CIMB-GK Securities Ltd di Singapura.
Defisit perdagangan naik menjadi US$791 juta pada Juni dari US$559 juta setahun sebelumnya, ungkap laporan itu. Defisit pada semester I tercatat US$3,93 miliar dibandingkan dengan US$906 juta setahun sebelumnya.
Nilai tukar peso menurun 0,5% menjadi 45,86 per dolar AS pada pkl. 9:02 waktu Manila, menurut Tullett Prebon Plc. Mata uang itu turun 10% sejak awal tahun ini. (tw)
bisnis.com
Berita Lain
- Penurunan harga rumah di Hong Kong dekati 25%
- "ECB harus agresif turunkan suku bunga"
- Bank Sentral Thailand pangkas suku bunga 1%
- Australia kembali turunkan bunga 100 bps
- Selandia baru bakal turunkan bunga 1,5 bps