Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional


Kamis, 28/08/2008 09:36 WIB

Malaysia diperkirakan pangkas pendapatan pajak

oleh : M. Yunan Hilmi

KUALA  LUMPUR (Bloomberg): Pertumbuhan ekonomi yang melambat dan akselerasi laju inflasi memaksa PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi memangkas pajak dan memperbesar dana tunai untuk konsumsi guna menopang anggaran 2009.

Sejumlah ekonom mengatakan Abdullah, 68, kemungkinan akan melakukan pengurangan pendapatan pajak, menekan kontribusi dana pensiun tenaga kerja, dan memberikan potongan bagi penduduk miskin. Estimasi itu dilontarkan menjelang pidato Abdullah besok.

Melemahnya perekonomian AS telah memukul ekspor Malaysian, mengancam pertumbuhan dan mempersulit upaya Abdullah mempertahankan kekuasaan setelah memburuknya kinerja koalisi dalam pemilu Maret. Pemimpin oposisi Anwar Ibrahim memenangkan pemilu pekan ini yang mengembalikannya ke parlemen untuk pertama kalinya.

"Kemenangan Anwar dapat meningkatkan keputusasaan pihak penguasa dan mereka bisa kehilangan kekuasaan. Hal ini juga menimbulkan risiko defisit anggaran fiskal," kata Kit Wei Zheng, ekonom Citigroup Inc, Singapura.

Malaysia bergabung dengan negara tetangga dalam menaikkan bunga pinjaman untuk meredam inflasi tahun ini. Bank sentral pekan ini mematok suku bunga overnight pada 3,5%. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 6% kuartal kedua yang merupakan persentase terendah sepanjang tahun ini.

"Kenaikan harga, ambruknya pasar modal, dan suhu politik yang makin tidak menentu, berdampak pada pengeluaran konsumen selama kuartal kedua," kata Nikhilesh Bhattacharyya, ekonom Moody's Economy.com di Sydney.

Abdullah akan mengumumkan perkiraan baru atas pertumbuhan ekonomi untuk 2008 dan 2009 besok, termasuk estimasi defisit anggaran dan rencanan pengeluaran publik.

Pemerintah Asia, dari Filipina sampai Singapura menurunkan perkiraan pertumbuhan tahun ini akibat imbas kondisi ekonomi AS. Bahkan, Asian Development Bank memperkirakan inflasi bisa mencapai level tertinggi selama dekade ini pada 2008. Hal ini memaksa pemerintah untuk meningkatkan subsidi bagi masyarakat miskin.

Inflasi di Malaysia mencapai 8,5% bulan lalu setelah pemerintah memangkas subsidi BBM untuk menekan biaya seiring dengan kenaikan harga minyak. Pekan ini, bank sentral mengatakan inflasi seharusnya bisa moderate pada semester II/2009.(yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Cadangan devisa China tembus US$2 triliun
  • Para bankir di Eropa tak akan dapat bonus
  • Korsel terima US$4 miliar dari Federal Reserve
  • Bursa saham Eropa jatuh

Komentar

Beri Komentar