Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional
Jumat, 29/08/2008 09:08 WIB
Inflasi tertinggi bayangi Korsel
oleh : M. Yunan Hilmi
SEOUL (Bloomberg): Pergerakan inflasi di Korea Selatan diperkirakan mencapai yang tercepat dalam satu dekade pada Agustus menyusul depresiasi mata uang memperbesar biaya produk impor.
Survei terhadap 14 ekonom menyebutkan harga konsumen diperkirakan naik 6,3% dari tahun sebelumnya, setelah pada Juli bertambah 5,9%. Pemerintah akan mengumumkan angka inflasi pada 1 September pukul 1.30 p.m. di Gwacheon.
Tingginya biaya bahan bakar dan melemahnya won dapat memicu inflasi yang bisa memaksa Gubernur Bank of Korea Lee Seong Tae mengikuti jejak sejumlah negara seperti India, Taiwan, Indonesia dan Filipina yang menaikkan suku bunga acuan tahun ini. Lee bisa saja bertahan sampai akhir tahun ini untuk menghindari macetnya pertumbuhan ekonomi karena kenaikan suku bunga kredit akan berdampak pada usaha kecil dan konsumer.
"Kenaikan suku bunga sepertinya lebih berdampak buruk terhadap perekonomian. Memang suku bunga yang tinggi bisa menahan inflasi namun merupakan biaya bagi pertumbuhan ekonomi," kata Kwon Young Sun, analis Lehman Brothers Holdings Inc Hong Kong.
Lee dan jajaran deputinya menaikkan suku bunga acuan ke posisi tertinggi dalam delapan tahun sebesar 5,25% pada 8 Agustus. Langkah ini dengan pemikiran bahwa inflasi merupakan ancaman terbesar ketimbang pertumbuhan yang moderat.
Bank sentral memperkirakan ekspor ke China dan pasar berkembang lain dapat memperkuat perekonomian di tengah melemahnya permintaan domestik.
Hasil survei lain menyebutkan pengapalan ke luar negeri diperkirakan naik 23,3% pada Agustus dari tahun sebelumnya. Pada Juli sektor ini naik 36%.(yn)
bisnis.com
Berita Lain
- Penurunan harga rumah di Hong Kong dekati 25%
- "ECB harus agresif turunkan suku bunga"
- Bank Sentral Thailand pangkas suku bunga 1%
- Australia kembali turunkan bunga 100 bps
- Selandia baru bakal turunkan bunga 1,5 bps