Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional
Senin, 01/09/2008 09:38 WIB
Defisit neraca berjalan Australia menyempit
oleh : Elsya Refianti
SYDNEY (Bloomberg): Defisit neraca berjalan Australia menyempit pada triwulan kedua untuk pertama kali dalam hampir dua tahun karena ekspor mineral melonjak.
Defisit produk, jasa dan investasi mengecil jadi A$12,77 miliar (US$10,9 miliar) dari A$19,84 miliar pada triwulan pertama yang direvisi, kata Bureau of Statistics di Sydney, hari ini. Estimasi tengah dalam satu survei Bloomberg News terhadap 24 ekonom berada di angka A$11,7 miliar.
Lonjakan permintaan dari China terhadap batu bara dan bijih besi akan menaikkan devisa ekspor Australia sebesar 20% pada tahun ini, kata estimasi bank sentral, sehingga mendongkrak laba perusahaan tambang termasuk Rio Tinto Group. Defisit neraca berjalan berpeluang menyempit lebih lanjut karena para konsumen memangkas belanja terhadap produk mobil dan elektronik impor.
"Dengan pertumbuhan impor sepertinya akan melambat dalam triwulan mendatang karena permintaan domestik terus melemah, ekspor seharusnya berlanjut membuat kontribusi positif terhadap pertumbuhan," kata Rob Henderson, kepala ekonom di National Australia Bank Ltd di Sydney menjelang keluarnya laporan pada hari ini.
Dolar Australia diperdagangkan pada level 85,40 sen AS pada pkl. 11:36 di Sydney dari 85,35 sen sebelum keluarnya data. Imbal hasil obligasi pemerintah berjangka dua tahun naik 2 basis poin atau 0,02% poin menjadi 5,71%.
Ekspor bersih turun 0,1% poin dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua, kata laporan yang dirilis hari ini.
Pemerintah akan mempublikasikan laporan pada 3 September yang diduga akan menunjukkan produk domestik bruto pada triwulan kedua meningkat 0,4% dari tiga bulan sebelumnya yang mengalami ekspansi 0,6%, ungkap survei terhadap para ekonom oleh Bloomberg News.
Defisit net income meluas menjadi A$13,28 miliar pada triwulan kedua dari A$12,49 miliar pada tiga bulan sebelumnya, ungkap laporan hari ini. Neraca perdagangan barang dan jasa berpindah ke surplus sebesar A$559 juta dari defisit A$7,31 miliar.(er)
bisnis.com
Berita Lain
- Penurunan harga rumah di Hong Kong dekati 25%
- "ECB harus agresif turunkan suku bunga"
- Bank Sentral Thailand pangkas suku bunga 1%
- Australia kembali turunkan bunga 100 bps
- Selandia baru bakal turunkan bunga 1,5 bps