Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional
Rabu, 03/09/2008 20:01 WIB
'Investor hindari bursa Malaysia dan Thailand'
oleh : M. Yunan Hilmi
KUALA LUMPUR (Bloomberg): Credit Suisse Group menyarankan agar investor menghindari bursa Malaysia dan Thailand seiring dengan gejolak politis di dua negara di Asia Tenggara itu yang makin meningkat.
Thailand, yang menerapkan keadaan darurat kemarin, belum memberikan kesempatan aksi beli lantaran kekerasan masih berlanjut dan terancam tidak mempunyai pemerintahan. Analis Credit Suisse juga mempertahankan rating 'underweight' terhadap bursa Malaysia, di tengah perlawanan antara pemerintah dan oposisi pimpinan Anwar Ibrahim yang bisa meningkatkan risiko terhadap perekonomian.
"Kejadian seperti ini bakal berdampak negatif dalam jangka panjang. Bagi investor long-term, mereka tidak melihat adanya kesempatan. Lebih baik menjauhi pasar," kata Scott Lim, chief investment officer CMS Dresdner Asset Management Sdn, Kuala Lumpur.
Indeks SET Thailand anjlok 24% selama 2008 dan sempat menyentuh posisi terendah sejak Februari 2007 kemarin setelah PM Samak Sundaravej umumkan keadaan darurat. Kuala Lumpur Composite Index juga tertahan sampai 25% setelah pihak koalisi mengalami kinerja pemilihan terburuk dalam lima dekade pada Maret. Bursa di kedua negara itu merupakan yang terburuk di kawasan Asia Tenggara sepanjang tahun ini, setelah Vietnam.(yn)
bisnis.com
Berita Lain
- Ekspor Jepang turun hingga terendah 7 tahun
- Deutsche Bank AG akan PHK 900 karyawan
- ECB berpeluang pangkas suku bunga acuan
- Turki diprediksi tahan suku bunga acuan
- Ekonomi Jepang melemah 0,4%
Komentar
#1 - Merangkul yang manjauh
Pandai-pandailah Indonesia menarik investor yg menjauhi pasar saham Thailand n Malaysia tsb. Kita perlu merangkulnya.
seena - jakarta @ 04/09/2008 - 00:30 WIB dari 60.50.219.208 (208.219.50.60.cbj04-home.tm.net.my)