Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional
Jumat, 03/10/2008 10:25 WIB
Anggota DPR AS mulai melunak soal bailout
oleh : Linda Tangdialla
WASHINGTON (AP): Sikap beberapa anggota DPR AS mulai melunak menyangkut RUU bailout US$700 miliar, sehingga besar kemungkinan proposal itu lolos dalam voting Jumat waktu setempat.
Beberapa anggota parlemen mengatakan telepon pribadi dari kandidat presiden Barack Obama membuat mereka berubah pikiran dari ‘No’ menjadi ‘Yes’. Anggota House of Representative dari Partai Republik maupun Demokrat juga mengatakan bahwa seruan dari kalangan bisnis kecil menengah dan tambahan keringanan pajak US$110 miliar yang diajukan Senat membuat mereka tak lagi menentang RUU bailout itu.
"Saya sebenarnya tak suka, tetapi tidak melakukan apapun bagi saya sangatlah berbahaya bagi negara kita," kata Zach Wamp, anggota parlemen dari Partai Republik (Tennessee). Dia adalah satu dari 133 anggota parlemen dari Republik yang bergabung bersama 95 anggota parlemen lainnya dari Partai Demokrat yang menolak RUU tersebut dalam voting Senin. Peristiwa itu membuat bursa saham AS anjlok.
Ketika RUU itu dibawa ke Senat, para senator mendukung dengan sejumlah revisi. Program talangan yang diajukan pemerintah George W. Bush itu dimaksudkan untuk menyelamatkan industri finansial AS yang rontok sebagai dampak dari krisis kredit perumahan (subprime mortgage).
Para anggota DPR masih terus mempelajari RUU tersebut dan bukan tak mungkin mereka menuntut revisi lagi sebelum mendukungnya.
Kecemasan terhadap dampak penolakan RUU bailout atas perekonomian AS membuat indeks Dow Jones pada Kamis jatuh hampir 350 poin, tiga hari setelah indeks itu merosot 778 poin atau penurunan tertinggi per hari dalam 10 tahun terakhir. Kondisi itu juga memukul bursa Asia.
Kandidat presiden Barack Obama dan pesaingnya John McCain dari Partai Republik menelepon anggota parlemen untuk meminta mereka mendukung RUU bailout guna menyelamatkan industri finansial AS dari kehancuran total.
bisnis.com
Berita Lain
- Penurunan harga rumah di Hong Kong dekati 25%
- "ECB harus agresif turunkan suku bunga"
- Bank Sentral Thailand pangkas suku bunga 1%
- Australia kembali turunkan bunga 100 bps
- Selandia baru bakal turunkan bunga 1,5 bps