Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional


Rabu, 08/10/2008 23:44 WIB

Ekonomi global diprediksi melambat tajam

oleh : Linda Tangdialla

NEW YORK (AP): IMF memperkirakan perekonomian global akan melambat tajam tahun ini dan tahun depan, dengan AS mengalami resesi sebagai dampak dari krisis finansial terburuk di negeri itu dalam 50 tahun terakhir.

Dalam laporannya berjudul World Economic Outlook yang dikeluarkan hari ini, International Monetary Fund menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan memprediksikan AS-episenter dari krisis finansial kali ini-akan terpukul hebat.

"Perekonomian dunia sekarang memasuki penurunan besar berhadap dengan shock paling berbahaya di pasar finansial sejak 1930-an," kata IMF dalam laporannya.

Lembaga itu memperkirakan perekonomian global, yang tumbuh sekitar 5% tahun lalu, akan melemah dengan cepat, menjadi 3,9% tahun ini, lalu turun lagi menjadi hanya 3% tahun depan atau angka terburuk sejak 2002.

Proyeksi IMF itu dibuat sebelum bank sentral AS dan sejumlah bank sentral dunia lainnya menurunkan suku bunga hari ini guna mencegah krisis finansial menjadi kehancuran ekonomi global.

The Fed menurunkan suku bunga utama dari 2% menjadi 1,5%, sedangkan di Eropa Bank of England menurunkan suku bunga setengah poin menjadi 4,5% dan European Central Bank memotong suku bunganya menjadi 3,75%.

Bank sentral lainnya yang menurunkan suku bunga adalah China, Kanada, Swedia, dan Swiss. Bank of Japan menyatakan dukungan kuatnya terhadap langkah tersebut.

Chief economist IMF Oliver Blanchard mengatakan pemotongan suku bunga secara bersama-sama itu merupakan langkah yang tepat arah. Tetapi dia mengingatkan bahwa ke depan keadaan masih sangat sulit. Penurunan suku bunga sama sekali bukan jaminan pemulihan. "Tak akan terjadi pemecahan masalah hanya dengan menurunkan suku bunga, tetapi itu merupakan bagian dari solusi," katanya.

Ketika ditanyakan kemungkinan perekonomian global ambruk dalam jangka panjang, Blanchard mengatakan "Saya yakin risiko terjadinya depresi besar sangat kecil."

Krisis finansial, yang bermula di AS pada Agustus 2007 dan menyebar ke seluruh dunia, memasuki fase menentukan yang baru pada bulan lalu, sehingga tingkat kepercayaan investor terhadap institusi dan pasar finansial global, jatuh, kata IMF.

Hal itu mendorong serangkaian kebangkrutan di industri finansial, terjadinya merger yang dipaksakan dan intervensi besar-besaran pemerintah AS ke pasar finansial, salah satunya dengan program bailout US$700 miliar guna mencegah agar situasinya tidak semakin memburuk.

Pertumbuhan ekonomi AS tahun lalu 2%, akan turun menjadi 1,6% tahun ini dan mungkin hanya 0,1% tahun depan. Ini merupakan angka terburuk sejak 1991 ketika negara itu bangkit dari resesi.

"Dengan kemungkinan resesi semakin terbuka, pertanyaan kunci adalah, seberapa dalam penurunan akan terjadi, kapankah akan terjadi pemulihan dan seberapa kuatkah," kata IMF. Hal itu akan tergantung pada seberapa efektif langkah-langkah AS untuk menstabilkan pasar finansial dan mengupayakan kredit perbankan kembali mengalir.

Faktor penting lainnya adalah apakah konsumen AS akan bereaksi positif mengingat penurunan konsumsi akan merugikan perekonomian secara keseluruhan. IMF dan banyak ekonom swasta umumnya percaya perekonomian AS akan berkontraksi selama tiga bulan terakhir tahun ini dan pada tiga bulan pertama tahun depan, sesuai dengan definisi klasik tentang resesi. Perekonomian AS pernah mengalami krisis pada 2001, setelah peristiwa Nine Eleven.

Dengan paket bailout/talangan dari pemerintah senilai US$700 miliar, Washington membeli utang-utang macet dari institusi finansial yang bermasalah. Dengan begitu pembukuan mereka menjadi putih bersih, sehingga mereka dapat memberikan pinjaman lagi sehingga perekonomian bergerak lagi.

IMF menilai langkah itu dapat menstabilisasi pasar, akan tetapi "proses perbaikan neraca keuangan akan panjang dan berliku." Ketersediaan kredit tampaknya akan tetap ketat selama tahun 2009.

Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke, dalam pidatonya Selasa, mengatakan prospek ekonomi tahun ini suram dan kerugian mungkin akan cukup lama. Pernyataannya itu membuat pasar jadi tak yakin atas dampak positif dari penurunan suku bunga yang dilakukan hari ini.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Cadangan devisa China tembus US$2 triliun
  • Para bankir di Eropa tak akan dapat bonus
  • Korsel terima US$4 miliar dari Federal Reserve
  • Bursa saham Eropa jatuh

Komentar

Beri Komentar