Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional
Senin, 17/11/2008 19:46 WIB
Turki diprediksi tahan suku bunga acuan
oleh : M. Yunan Hilmi
ANKARA (Bloomberg): Bank sentral Turki kemungkinan mempertahankan suku bunga acuan untuk menjaga mata uang lira dari dampak krisis ekonomi global.
Sebanyak 16 ekonom memprediksikan bank sentral Turki akan mempertahankan suku bunga pinjaman overnite pada 16,75%. Bank sentral akan mengumumkan keputusannya pada pukul 7 p.m Rabu, 19 November.
Turki mempertahankan suku bunga pinjaman pada level tinggi, meski sejumlah negara berkembang telah menurunkannya, untuk menjaga nilai tukar lira dan pelindungi perusahaan yang memiliki utang valas. Lira sudah terdepresiasi 21% terhadap dolar AS sejak Oktober. Bank sentral pada 31 Oktober, menegaskan ketidakpastian global membuat kebijakan otoritas moneter Turki tetap berjaga-jaga.
"Yang menjadi perhatian bank sentral pasti nilai tukar lira. Mereka menyadari kebijakan yang longgar akan prematur dan berdampak negatif terhadap lira," ujar Yarkin Cebeci, ekonom JPMorgan Chase & Co di Istanbul.
Data terakhir bank sentral memperlihatkan perusahaan negara itu yang memiliki utang valas senilai US$81,4 miliar per akhir Juni, sudah melebihi aset mereka. Depresiasi mata uang lokal akan mendorong inflasi karena biaya impor naik dan menimbulkan keraguan atas kemampuan perusahaan melunasi utang.
Standard & Poor's pada 13 November telah menurunkan rating outlook kredit Turki menjadi negatif dari stabil menyusul kekhawatiran sektor perbankan mengalami kesulitan likuiditas tahun depan karena krisis kredit global.
Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan pekan lalu menjelaskan pemerintah dan International Monetary Fund sudah mendekati kesepakatan perjanjian ekonomi. "Kami sudah pada titik pencapaian solusi," kata Erdogan kepada pers seusai jumpa pers di Washington disela-sela pertemuan negara-negara G-20.
Dominique Strauss-Kahn, managing director IMF, mengatakan dirinya yakin dapat menyelesaian kesepakatan tidak lama lagi.
Laju inflasi mencapai angka 12% pada Oktober, naik dari 11,1% bulan sebelumnya. Bank sentral menargetkan inflasi pada 7,5% akhir 2009.(yn)
bisnis.com
Berita Lain
- Jepang-China bahas sengketa gas
- Investasi asing di Korsel 2008 naik 11,3%
- Penjualan ritel di AS turun 17,3%
- Ekspor Korsel Desember turun 17,4%
- Singapura pangkas prediksi ekonomi 2009