Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional
Senin, 01/12/2008 10:58 WIB
Pabrikan China terkontraksi paling dalam
oleh : Elsya Refianti
HONG KONG (Bloomberg): Pabrikan China berkontraksi paling dalam dan pesanan ekspornya terpuruk, sehingga menambah bukti bahwa resesi di AS, Eropa dan Jepang menggerogoti perekonomian negara itu. Purchasing Managers’ Index (PMI) tertekan ke 38,8 pada November dari 44,6 pada Oktober, ungkap China Federation of Logistics and Purchasing hari ini dalam satu pernyataan yang dikirim lewat surat elektronik. Ekonomi China tengah menurun lebih cepat daripada perkiraan lembaga perencana utama negara itu, kata ketuanya, Zhang Ping, pada pekan lalu. Situasi itu merupakan ujian kemampuan bagi Partai Komunis negara itu untuk memerintah, kata Presiden China Hu Jintao pada 29 November lalu, sebagaimana dikutip oleh kantor berita resmi Xinhua News Agency. "Indeks PMI pada November menunjukkan indikasi berlanjutnya pelambatan ekonomi," kata Zhang Liqun, petugas peneliti senior di State Council’s Development Research Center dalam satu pernyataannya. Zhang mengatakan sejumlah upaya pemerintah untuk membantu pertumbuhan masih memerlukan waktu untuk menunjukkan efek penuhnya, yang akan terjadi setelah musim semi 2009. Mata uang yuan melemah 0,22% menjadi 6,8497 terhadap dolar AS pada pkl. 9:41 di Shanghai, penurunan terdalam sejak satu bulan lebih, karena pemerintah berupaya membantu para eksportir. Pesanan ekspor dan produksi di China seluruhnya terkontraksi paling dalam sejak survei itu dimulai pada 2005. Melemahnya permintaan terhadap produk China dan keterpurukan sektor konstruksi menekan pertumbuhan. Pada bulan lalu China mengumumkan paket stimulus ekonomi senilai US$586 miliar dan pemangkasan suku bunga terbesar dalam 11 tahun guna membantu pertumbuhan ekonominya dan menahan risiko bertambahnya pengangguran serta masalah sosial. Pesanan ekspor China turun menjadi 29 pada November dari 41,4 di Oktober, ungkap hasil survei. Angka di atas 50 merefleksikan ekspansi, sedangkan di bawah 50 mencerminkan kontraksi. Indeks produksi turun menjadi 35,5 dari 44,3, sedangkan indeks pesanan baru turun ke 32,3 dari 41,7. Ekonomi China, terbesar keempat di dunia, mengalami ekspansi 9% pada triwulan ketiga dibandingkan setahun sebelumnya, paling lambat sejak 2003. Di triwulan ini, pertumbuhan berpeluang melambat jadi 4%, kata JPMorgan Chase & Co. Bank Dunia pada pekan lalu telah memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi China menjadi 7,5% pada 2009 dari estimasi 9,2% pada Juni. Angka itu akan menjadi yang terlemah sejak 1990. Purchasing Managers’ Index yang ditopang pemerintah oleh itu berbasis kepada satu survei terhadap lebih dari 700 perusahaan untuk 20 industri, termasuk energi, metalurgi, tekstil, otomotif dan elektronik. Survei itu melacak perubahan pada propduksi, pesanan baru, tenaga kerja, stok dan harga.(er)
bisnis.com
Berita Lain
- Investasi asing di Korsel 2008 naik 11,3%
- Penjualan ritel di AS turun 17,3%
- Ekspor Korsel Desember turun 17,4%
- Singapura pangkas prediksi ekonomi 2009
- Pertumbuhan Singapura turun jadi 1,5%