Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Internasional


Jumat, 05/12/2008 10:51 WIB

Penurunan harga rumah di Hong Kong dekati 25%

oleh : Elsya Refianti

HONG KONG (Bloomberg): Harga rumah di Hong Kong turun hampir 25% dari posisi tertingginya Maret lalu, dan berpeluang terus melemah karena perbankan memperketat pinjaman mortgage akibat peningkatan angka pengangguran dikhawatirkan bakal memukul kemampuan pembeli untuk membayar utang.

"Ada kekurangan nyata dalam pendanaan. Perbankan tidak mau memberi pinjaman kepada bank lain, membiarkan usaha kecil dan menengah serta individu sendirian," kata Leland Sun, Chairperson Pan Asian Mortgage Co yang berbasis di Hong Kong, kemarin.

Suku bunga mortgage di Hong Kong melonjak meski secara de facto bank sentral telah menurunkan suku bunga acuan pinjaman sejalan dengan kebijakan Federal Reserve AS. Hal itu menghidupkan kembali ingatan terhadap krisis finansial di Asia pada 1997 - 1998, di mana harga rumah di Hong Kong anjlok dua per tiga dari level puncaknya.

Kenaikan suku bunga mortgage membuat biaya menjadi lebih mahal bagi pembeli rumah untuk meminjam uang. Hal ini bisa memicu penurunan lebih lanjut pada harga rumah, yang telah turun 22% sejak Maret, kata Centaline Property Agency Ltd.

HSBC Holdings Plc, bank terbesar kota itu dari segi jumlah cabang, menaikkan suku bunga mortgage sebesar 75 basis poin pada pekan ini. Perbankan di Hong Kong telah mengikuti enam dari sembilan kali kebijakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. HSBC menurunkan suku bunganya menjadi 5% pada 7 November, terendah empat tahun.

Indeks Hong Kong University Property Derivative mengungkapkan bahwa para investor menduga penurunan sebesar 30% pada harga properti tahun depan, kata Richard Wo, yang mengepalai Product Services and Training di Sun Hung Kai Financial Ltd, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg Television.

Jumlah para pemilik rumah dan apartemen lebih kecil dari lonjakan mortgage-nya yang mencapai 174% pada triwulan ketiga, ungkap Hong Kong Monetary Authority pada bulan lalu. Jumlah rumah yang berpindah tangan turun 79% pada November, terparah dalam sedikitnya 12 tahun, kata institusi pemerintah itu.

Perbankan dan para pembeli rumah kemungkinan khawatir mengenai ekonomi Hong Kong yang terkontraksi 0,5% pada triwulan ketiga bakal mengulang kembali resesi pertama pada 2003, dan meningkatnya tingkat pengangguran jadi 3,5% pada Oktober. Sebanyak 6.000 tenaga kerja telah terkena PHK lanjutan dalam enam pekan terakhir, kata harian the South China Morning Post pada 1 Desember.

HSBC sendiri, yang memiliki karyawan sebanyak 21.000 lebih di Hong Kong, pada bulan lalu mengatakan mem-PHK sebanyak 450 tenaga kerjanya di kota itu. Standard Chartered Plc pada 2 Desember mengemukakan bakal memecat 200 karyawannya, yang 4% di antaranya diambil dari Hong Kong.(er)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Produksi industri di Jepang anjlok 8,1%
  • Rusia terapkan defisit anggaran 2009
  • Korban kasus Madoff bunuh diri
  • Putin: Krisis finansial naikkan harga gas alam

Komentar

Beri Komentar