Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Makro
Selasa, 06/05/2008 19:09 WIB
Bantuan negara berkembang perlu seimbang
oleh : Dewi Astuti
JAKARTA (Bisnis): Pemerintah negara-negara berkembang di Asia perlu menciptakan keseimbangan dalam hal pemberian bantuan kepada masyarakat miskin dan mereka yang rentan terhadap lonjakan harga bahan pangan, ungkap hasil studi ADB.
Selain itu, pemerintah negara berkembang di kawasan ini juga harus menjamin ketersediaan pinjaman sebagai akses bagi masyarakat miskin untuk dapat memiliki cadangan pangan yang mencukupi menghadapi siklus panen gandum mendatang.
Rekomendasi tersebut tertuang dari hasil studi Bank Pembangunan Asia (ADB) bertajuk Food Prices and Inflation in Developing Asia: Is poverty Reduction Coming to an End? yang dirilis hari ini.
"Mayoritas masyarakat miskin di negara berkembang di Asia hidup di pedesaan dan tergantung pada pertanian. Pertumbuhan hasil pertanian yang lebih tinggi akan meningkatkan hasil panen, mengurangi biaya hidup dan meningkatkan pendapatan rumah tangga," kata Ifzal Ali, Chief Economist ADB, seperti ditulis dalam situs resmi lembaga donor itu.
Menurut dia, untuk menjamin keamanan pangan dalam jangka panjang, pemerintah harus fokus pada ketersediaan pangan yang bersifat dinamis sehingga produktifitas pertanian juga dapat menjadi lebih tinggi.
Imbal hasil gandum di sebagian besar negara-negara Asia, katanya, tetap rendah bila dibandingkan dengan negara produsen gandum utama lain. Namun, pemerintah harus fokus pada peningkatan teknologi, pemanfaatan air, tenaga listrik dan faktor utama lainnya secara efisien.
Meski begitu, Ali mengakui para petani di negara berkembang akan sulit menyesuaikan diri ketika dihadapkan pada transisi ke sistem pertanian dan teknologi yang baru. (tw)
bisnis.com
Berita Lain
- Antisipasi krisis, pemerintah genjot proyek infrastruktur
- Atasi krisis global, kebijakan disesuaikan
- Utang dinaikkan untuk proyek infrastruktur
- Bank Dunia kucurkan Rp24 triliun untuk RI
- Kemenko Perekonomian reformasi birokrasi 2009