Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Makro
Rabu, 16/07/2008 13:39 WIB
Wapres pernah 'lempar' laporan keuangan Depkeu
oleh : John Andhi Oktaveri
JAKARTA (Bisnis.com): Siapa menyangka Wapres Jusuf Kalla ternyata pernah marah besar dan melempar laporan keuangan yang diserahkan pejabat Departemen Keuangan akibat laporan tersebut dinilainya tidak lebih dari laporan keuangan sebuah toko.
Namun kejadian itu berlangsung lima hari setelah pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu di bawah kepemimpinannya berjalan. Hal itu diceritakan Wapres dalam sambutannya pada Rapat Kerja Nasional Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah yang dihadiri Menkeu Sri Mulyani hari ini.
Kekesalan Wapres saat itu cukup beralasan karena sebagai seorang mantan pedagang sadar betul betapa pentingnya sebuah laporan keuangan. Apalagi laporan keuangan sebuah negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa dengan aset yang sangat besar. Pada satu sisi mengelola negara dengan mengelola toko tentu ada persamaannya, terutama karena sama-sama membutuhkan laporan keuangan. Akan tetapi tentu akan berbeda ketika urusannya menyangkut soal struktur dan teknik pelaporan keuangan.
Untuk itulah dia menekankan betapa pentingnya sistem pelaporan keuangan yang terstruktur berdasarkan aturan akuntansi yang berlaku. "Saya terkejut sekali bahwa yang dilaporkan itu sama dengan laporan toko,” ujar Kalla yang disambut tawa peserta Rakernas.
Lalu Kalla menceritakan bahwa dia meminta laporan lebih baik lagi. Namun, laporan berikutnya ternyata belum memuaskan pria kelahiran Watampone Sulawesi Selatan yang sebelum menjadi Wapres sempat memimpin perusahaan besar NV Hadji Kalla tersebut. Puncak kemarahan Kalla justru muncul setelah melihat bagaimana sebuah laporan keuangan negara dari Departemen Keuangan itu disusun secara amburadul karena tidak terstruktur dengan baik.
"Saya lebih marah lagi karena digabunglah dana dolar sekian, yen sekian, poundsterling sekian, euro sekian. Ini sama saja jambu tambah apel tambah kambing tambah kerbau, ditotal jadi begitu. Saya lemparkan laporan itu dan masih saya simpan itu," katanya.
Menurut Wapres, kejadian itu menunjukkan betapa konyolnya administrasi di Depkeu sehingga tidak mengetahui berapa kekuatan keuangan negara. Dia ingin mengetahui kekuatan keuangan pemerintah sehingga yang dipanggil pertama kali adalah menteri keuangan.(yn)
bisnis.com
Berita Lain
- Kenaikan harga elpiji akan dorong inflasi
- Pemkot Semarang gelar rakor jelang Lebaran
- Bibit: Program harus fokus ke rakyat
- Kadin usulkan 5 poin untuk RPP Perizinan
- Pengucuran BLT tahap I Rp5,398 miliar