Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Makro
Senin, 01/09/2008 19:10 WIB
Kebijakan BI efektif tekan inflasi
oleh : M. Yunan Hilmi
JAKARTA (Bisnis.com): Tingkat inflasi yang rendah menunjukkan bukti efektifitas Bank Indonesia dalam mengawal inflasi melalui kebijakan yang cenderung ketat dengan cara menaikkan suku bunga BI Rate secara konsisten.
Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan inflasi Agustus yang hanya 0,51% cukup mengejutkan karena dampak gonjang ganjing kelangkaan gas LPG ternyata tidak signifikan dorong inflasi.
"Tapi sebenarnya inflasi yang rendah itu sebagai bukti efektifitas Bank Indonesia dalam mengawal inflasi melalui kebijakan moneter yang cenderung ketat dengan cara menaikkan BI Rate secara konsisten. Terbukti saat ini sebagian besar bank mengalami likuiditas ketat karena sebagian dananya tertanam di instrumen SBI," katanya di Jakarta, hari ini.
Dia menjelaskan dengan inflasi y-o-y masih di bawah 12%, tepatnya 11,85%, dan inflasi year to date masih di bawah 9,5%, sebaiknya Bank Indonesia tidak menaikkan BI Rate. "Artinya BI tetap mempertahankan BI Rate di level sekarang yang 9%. Maklum, inflasi September ini diperkirakan akan naik lagi menyusul tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi menyambut puasa dan persiapan Lebaran," tuturnya.
Jadi, tegasnya, BI Rate mungkin baru akan naik 25 bps menjadi 9,25% bulan depan. "Dengan ditahannya BI Rate tetap 9% bulan ini, akan menahan nafsu bank-bank menaikkan suku bunga. Dan ini akan menjadi sentimen bagus bagi sektor riil di tengah ketatnya likuiditas perbankan. Yang pasti BI akan bekerja keras kendalikan inflasi kendati BI harus menanggung biaya moneter yang mahal hingga akhir tahun," tegasnya.(yn)
bisnis.com
Berita Lain
- Antisipasi krisis, pemerintah genjot proyek infrastruktur
- Atasi krisis global, kebijakan disesuaikan
- Utang dinaikkan untuk proyek infrastruktur
- Bank Dunia kucurkan Rp24 triliun untuk RI
- Kemenko Perekonomian reformasi birokrasi 2009