Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Makro
Kamis, 04/09/2008 08:35 WIB
BI Rate diprediksi naik ke 9,25%
oleh : Berliana Elisabeth S.
JAKARTA (Bloomberg): Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga BI Rate sebesar 25 basis poin untuk mengendalikan laju inflasi yang diprediksi kembali naik menjelang Lebaran.
Rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia rencananya digelar hari ini diperkirakan menaikkan suku bunga BI Rate sebesar 0,25% menjadi 9,25%, menurut 23 dari 28 ekonom yang disurvei Bloomberg News. Lima ekonom lainnya memproyeksikan tidak berubah.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat di luar dugaan pada kuartal kedua 2008 dipicu meningkatnya ekspor khususnya produk minyak kelapa sawit mentah dan batu bara thermal.
"Tampaknya BI akan menaikkan suku bunga setelah melihat konsumsi domestik meningkat," kata Enrico Tanuwidjaja, ekonom Oversea Chinese Banking Corp. di Singapura.
Kebijakan kenaikan suku bunga ini, lanjutnya, akan menjadikan rupiah sebagai subjek untuk mengendalikan inflasi.
Depresiasi rupiah sebesar 1,3% dalam satu bulan terakhir juga akan memicu bank sentrak menaikkan suku bunga, dengan demikian akan menambah gairah investor asing kembali membeli aset Indonesia.
Rupiah menguat 0,1% menjadi Rp9.207 per dolar AS pada penutupan perdagangan kemarin. Namun, pada pagi ini kurs kembali melemah menjadi Rp9.212 pada pukul 8.25 WIB.
Harga konsumen naik 11,85% periode Agustus dibandingkan Agustus tahun lalu, setelah naik 11,9% pada Juli YoY, dan pada Juni 34,7%, tercepat dalam sembilan tahun.
Bank sentral di kawasan Asia sudah menaikkan suku bunga dipicu kenaikan harga makanan dan komoditas yang memicu kenaikan inflasi di kawasan itu.
Bank of Thailand menaikkan suku bunga patokan untuk kedua kali periode satu bulan pada 27 Agustus menjadi 3,75%. Bangko Sentral ng Pilipinas menaikkan suku bunga overnight deposits untuk ketiga kalinya pada 12 minggu.
Harga-harga barang di Indonesia akan naik bulan ini ketika memasuki persiapan Idul Fitri pada awal Oktober 2008 dan berakhirnya Ramadan.
"Inflasi akan terdongkrak naiknya permintaan akibat bulan puasa dan Lebaran," kata Alexander Sugandi, ekonom Standard Chartered Plc di Jakarta.
Kebijakan menaikkan BI Rate hingga 9,5% dinilai untuk mempertahankan target inflasi pada level 6,5%-7,5% tahun depan, kata Deputy Gubernur BI Hartadi Sarwono pada 8 Agustus.
Namun, penurunan harga komoditas sejak akhir kuartal kedua juga memperlambat pertumbuhan ekonomi. Harga CPO anjlok 444% dari rekor tertinggi 4.486 ringgit (US$1.303) per ton pada Maret dipicu pasokan global lebih banyak dari konsumsi dan investor mengurangi investasinya pada komoditas ini. Indonesia merupakan produsen dan eksportir CPO terebsar pertama dunia sebelum malaysia.
Ekspor Indonesia tercatat naik 25,5% pada Juli 2008 dari Juli tahun lalu menjadi US$12,55 miliar, namun pada Juni 2008 naik 34,9%.
Dari survei Bloomberg, BNI Securities dan 22 perusahaan keuangan lain yang disurvei Bloomberg menyatakan BI Rate pada 4 September akan naik menjadi 9,25% dan pada 8 Oktober- 6 November kembali naik menjadi 9,50% namun pada 4 Desember naik hingga 9,75%.
Danareksa Securities dan empat perusahaan keuangan lainnya termasuk HSBC memproyeksinya BI rate hari ini tetap pada level 9%, bahkan perusahaan sekuritas pelat merah dan bank milik Hong Kong ini optimistis suku bunga hingga akhir tahun tidak bergerak.(yn)
bisnis.com
Berita Lain
- Antisipasi krisis, pemerintah genjot proyek infrastruktur
- Atasi krisis global, kebijakan disesuaikan
- Utang dinaikkan untuk proyek infrastruktur
- Bank Dunia kucurkan Rp24 triliun untuk RI
- Kemenko Perekonomian reformasi birokrasi 2009