Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Makro


Jumat, 05/09/2008 18:34 WIB

Transaksi berjalan RI defisit US$1,47 miliar

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): Transaksi berjalan Indonesia pada triwulan II 2008 defisit US$1,47 miliar meski Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) surplus US$1,32 miliar karena ekspor non migas turun.

Di antara komponen-komponen utama transaksi berjalan, neraca perdagangan dan neraca transfer berjalan masih surplus. "Namun, surplus pada kedua neraca tersebut lebih rendah daripada defisit yang terjadi pada neraca jasa dan neraca pendapatan sehingga secara keseluruhan transaksi berjalan mengalami defisit," kata Kepala Biro Humas Bank Indonesia Filianingsih Hendarta melalui rilisnya hari ini.

Jumlah cadangan devisa pada akhir periode tersebut meningkat menjadi US$59,5 miliar atau setara kebutuhan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 4,5 bulan. Surplus NPI bersumber dari surplus transaksi modal dan keuangan Sebesar US$3,7 miliar, lebih besar dari defisit pada transaksi berjalan US$1,5 miliar.
 
Neraca perdagangan mencatat surplus, meski jumlahnya menurun dibandingkan dengan surplus pada triwulan yang sama 2007 yakni US$3,63 miliar. Ini disebabkan oleh pertumbuhan ekspor total yang tidak setinggi pertumbuhan impor total.

Pertumbuhan nilai ekspor total meningkat menjadi 27,6% (y.o.y) dibandingkan 14,6% pada tahun sebelumnya, didukung oleh nilai ekspor migas yang tumbuh tinggi mengikuti pergerakan harga minyak di pasar internasional. Sementara itu, pertumbuhan ekspor nonmigas melambat akibat mulai melemahnya permintaan dunia yakni menjadi US$18,9 miliar dari US$19,9 pada triwulan II 2007 dan US$21,8 pada triwulan I 2008.

Pertumbuhan nilai impor total meningkat menjadi 51,2% (y.o.y) dibandingkan 14,0% pada 2007. Tingginya pertumbuhan impor tersebut didorong oleh kenaikan harga produk impor, baik nonmigas maupun migas, dan kenaikan permintaan domestik (termasuk kenaikan volume konsumsi BBM), serta kenaikan permintaan bahan baku untuk kegiatan produksi dalam negeri yang berbasis ekspor.
 
Dalam periode yang sama, transaksi modal dan keuangan mengalami peningkatan surplus. Kenaikan arus masuk modal asing terutama terjadi dalam bentuk modal portofolio, diikuti oleh penarikan utang luar negeri swasta dan penanaman modal langsung (PMA).

Hal ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kegiatan ekonomi domestik, membaiknya iklim investasi, selisih suku bunga yang menarik, kestabilan makroekonomi yang terjaga, dan membaiknya persepsi investor mengenai daya tahan keuangan negara (APBN) pasca kenaikan harga BBM. Selain itu, kenaikan surplus tersebut juga disebabkan oleh berkurangnya penempatan aset milik penduduk, baik berupa giro di bank luar negeri maupun surat berharga asing, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan untuk investasi dan impor.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Miranda: Inflasi diprediksi di kisaran 11%
  • Dana Alokasi Khusus tak terserap 10%
  • Daerah penunggak utang dikenai sanksi
  • Wapres: PHK tak dapat dihindari

Komentar

Beri Komentar