Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Makro


Senin, 06/10/2008 19:56 WIB

Pemerintah percepat belanja barang

oleh : Ratna Ariyanti & Tri D. Pamenan


JAKARTA (bisnis.com): Kepala Bappenas Paskah Suzetta menjelaskan pemerintah menyiapkan tiga langkah jangka pendek untuk mengantisipasi dampak resesi ekonomi global.

Dia menjelaskan langkah pertama yang akan diambil pemerintah adalah merevisi Keppres 80 tahun 2003 untuk mempercepat pengadaan barang dan jasa.

"Langkah kedua terkait dengan penguatan pos Jaring Pengaman Sosial. Pemerintah akan mengusulkan penambahan besaran dana BLT dari tiga bulan menjadi enam bulan pada 2009," ujarnya seusai mengikuti pertemuan pembahasan dampak resesi ekonomi AS di Gedung Setneg hari ini.

Langkah jangka pendek ketiga yang akan diambil adalah penambahan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan menggunakan skema modal ventura. Tiga hal tersebut akan menjadi langkah jangka pendek pemerintah dalam mengantisipasi dampak resesi ekonomi global.

Pemerintah juga tengah menjajaki kemungkinan mencari pinjaman dana baru ke Bank Dunia untuk kepentingan pinjaman siaga (standby loan). Menurut Paskah, rencana pengajuan pinjaman ke World Bank tersebut baru akan dirapatkan oleh pemerintah pada hari ini.

Dia belum dapat menyebutkan besaran dana pinjaman yang akan diajukan ke Bank Dunia. "Nanti, tunggu dulu deh. Ini masih sensitif. Tunggu dulu ya."

Dia mengungkapkan Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani malam ini berangkat ke Qatar dalam rangka menawarkan obligasi sukuk ke negara-negara Timur Tengah.

Sementara itu, terkait dengan penurunan indeks sebesar 10% pada transaksi perdagangan saham kemarin, Menkeu Sri Mulyani enggan berkomentar panjang. Dia optimistis pasar akan mencari titik equilibirium yang dianggap lebih rasional.

Pemerintah akan berkonsentrasi menjaga inflasi sambil tetap memelihara pertumbuhan ekonomi. Menurut dia, kedua tujuan itu tidak dapat dikorbankan salah satunya untuk mengutamakan lainnya.
"Kalau kita mau menjaga momentum pertmbuhan itu tetap harus dengan tingkat inflasi yang stabil."

Dia mengatakan tingkat equilibirium baru boleh jadi akan mengalami perubahan. "Kalau kemarin katakanlah kombinasinya adalah 6,4% growth dengan inflasi 6%, mungkin sekarang ini kalau inflasinya relatif lebih tinggi, katakanlah 7% dengan growth yang lebih banyak katakanlah 6%. Jadi itu adalah kombinasi yang dalam hal risiko maupun tantangan berubah, tetapi equilibiriumnya tidak akan banyak berubah. (tw)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Usia pensiun Dirjen Pajak diperpanjang 1 tahun
  • Kering likuiditas, bank domestik sulit diharapkan
  • Sri Mulyani: IMF harus direformasi
  • Model IMF dan Bank Dunia tak lagi relevan

Komentar

Beri Komentar