Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Makro
Senin, 01/12/2008 19:11 WIB
Inflasi rendah, BI berpeluang tahan BI Rate
oleh : Gajah Kusumo & Achmad Aris
JAKARTA (Bisnis.com): Senior Economist Bank BNI Ryan Kiryanto menilai rendahnya inflasi November memberikan peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI Rate di level 9,5%.
"Sangat diapresiasi jika BI berani menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,5% dengan pertimbangan inflasi melandai dan harga barang relatif terkendali karena supply and demand berimbang,” katanya kepada Bisnis, hari ini.
Di pihak lain, dia memperkirakan pertumbuhan ekspor tahun depan akan tidak sebagus pertumbuhan ekspor pada 2006, 2007, dan 2008 yang diakibatkan perlambatan ekonom global. Dia mengatakan untuk mendorong ekspor pemerintah harus mencari pasar nontradisional ke Timur Tengah, Australia, China, India, Amerika Latin, eks Uni Soviet seperti Rusia, Kazakhtan, Serbia, Polandia, dan Hongaria.
"Hanya saja harus ada mediator untuk memudahkan transaksi pembayaran karena mata uang beberapa negara tadi unconvertible terhadap dollar AS dan rupiah,” tuturnya.
Menurut dia, International Finance Corporation (IFC) bisa menjadi mediator dalam transaksi pembayaran tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan inflasi November sebesar 0,12% atau merupakan tingkat yang terendah sejak kenaikan harga BBM pada Mei lalu. Hal ini terjadi karena hampir tidak ada lonjakan harga, bahkan beberapa kelompok yang biasa menyumbang inflasi justru mengalami penurunan indeks harga.
BPS mencatat untuk pertama kali dalam dua tahun terakhir kelompok bahan makanan mengalami deflasi sehingga berkontribusi terhadap inflasi November yang hanya sebesar 0,12%. Laju inflasi tahun kalender Januari-November sebesar 11,1% dan inflasi tahunan (year on year) sebesar 11,68%.
Dari 66 kota tercatat 27 kota mengalami inflasi dan 39 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pinang 1,51% dan terendah di Surabaya sebesar 0,04%. Adapun deflasi tertinggi terjadi di Maumere 1,63% dan terendah di Mataram 0,02%.(yn)
bisnis.com
Berita Lain
- Kebijakan baru soal CPO segera dirilis
- Furnitur diusulkan dapat insentif fiskal
- Rumah Ditjen Pajak akan ditertibkan
- Dephut tunda usulan tarif reboisasi
- Dephut dapat alokasi DIPA Rp2,6 triliun