Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Ekonomi Makro
Kamis, 04/12/2008 16:40 WIB
Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia turun 10 poin
oleh : R. Fitriyana
JAKARTA (Bisnis.com): Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) dan pandangan ekonomi orang Indonesia turun dari skor 120 pada semester I/2008 menjadi 110 di akhir tahun ini.
Namun, pada ekonomi yang berkembang seperti Indonesia, banyak produk dan jasa yang terus mencetak pertumbuhan dua digit dan pengeluaran konsumen yang belum terpengaruh seperti yang terjadi pada ekonomi negara-negara Barat.
Hasil studi yang dilakukan Global Nielsen itu menunjukkan bahwa meski terkena dampak dari kondisi global saat ini, perusahaan dan konsumen pada negara berkembang sadar prospek medium dan jangka panjang mereka tetap kuat.
Menurut Chaterine Eddy, Direktur Eksekutif The Nielsen Company Indonesia, lebih dari sepertiga orang Indonesia akan prospek kerja local dan 60% tidak menganggap 12 bulan mendatang sebagai waktu yang tepat untuk berbelanja.
“Untuk konsumen global, 12 bulan terakhir merupakan tantangan dan bergejolak, Indonesia tentunya tidak terkecuali. Dengan ekonomi yang erat kaitannya dengan permintaan dunia,” katanya usai paparan Marketing and Media Presentation Nielsen, siang tadi.
Di sisi positif, lanjutnya, hampir tiga perempat dari responden online di Indonesia tetap optimistis mengenai kondisi keuangan pribadi mereka dalam 12 bulan mendatang.
Indonesia memiliki jumlah orang yang paling sedikit menyatakan bahwa mereka tidak memiliki sisa uang. “Perlu diingat ini adalah survei online dan di Indonesia, kelompok ini cenderung untuk lebih kaya dari rata-rata.”
Survei IKK Global Nielsen ini mencakup lebih dari 26.000 pengguna Internet di 52 negara dari 22 September-6 Oktober 2008 mengenai tingkat kepercayaan konsumen dan pandangan ekonomi mereka sejak survei berakhir di Mei 2008.
Chaterine menuturkan di Amerika Serikat (AS), dimana kegagalan kredit berasal, kepercayaan konsumen berlanjut turun dengan indeks yang menyentuh skor 82, turun dari 100 pada periode yang sama tahun lalu.
Mayoritas konsumen AS atau sekitar 86% berpikir negara mereka sedang dalam resesi ekonomi dan separuhnya berpikir resesi akan tetap untuk 12 bulan mendatang.
“Tidak terkecuali di Indonesia kebal dari gejala ini, dengan tingkat kepercayaan konsumen di antara orang Indonesia yang menurun,” tukasnya.
Dia menambahkan kekhawatiran orang Indonesia kebanyakan pada keseimbangan kerja dan hidup (37%) dan ekonomi (33%), diikuti oleh kesejahteraan dan kebahagiaan dari orang tua (24) dan untuk anak-anak mereka (19%).
Sementara itu, mengenai peluang di masa sulit dengan menabung kembali menjadi prioritas utama para konsumen di seluruh dunia dan Indonesia berada pada posisi ketiga, dimana dua pertiga konsumen akan menyimpan uang mereka ke dalam tabungan.(api)
bisnis.com
Berita Lain
- Kebijakan baru soal CPO segera dirilis
- Furnitur diusulkan dapat insentif fiskal
- Rumah Ditjen Pajak akan ditertibkan
- Dephut tunda usulan tarif reboisasi
- Dephut dapat alokasi DIPA Rp2,6 triliun