Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Fokus Bank Indonesia
Selasa, 05/08/2008 16:41 WIB
Kadin: Kenaikan BI Rate jadi ritual bulanan
oleh : Hendri T. Asworo
JAKARTA (Bisnis.com): Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai bank sentral telah menjadikan ritual bulanan dengan kembali menaikkan BI Rate menjadi 9% yang justru membebani rakyat di tengah penurunan daya beli masyarakat.
Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan bank sentral masih memakai jurus klasik dengan menaikkan BI Rate selama empat bulan berturut-turut untuk meredam gejolak inflasi yang sebenarnya disebabkan faktor eksternal.
"Menaikkan BI Rate tampaknya telah menjadi acara ritual bulanan Rapat Dewan Gubernur BI dalam empat bulan terakhir. BI masih memakai jurus klasik dalam upaya mengendalikan laju inflasi," ujarnya dalam pesan layanan singkat kepada Bisnis di Jakarta, hari ini.
Menurut dia, bagi dunia usaha dan sektor riil kenaikan BI Rate yg keempat kalinya ini merupakan pukulan telak di tengah penurunan daya beli masyarakat.
"Kendati Kadin bisa memahami dan masih dapat mentolelir, namun tidak bisa dipungkiri kenaikan tersebut akan menambah beban ekonomi sektor riil yang tengah babak belur," tegasnya.
Alasan dia menolak kenaikan BI Rate untuk ke empat kalinya, karena lending rate kredit bisa naik hingga di atas 20%. "Hal ini pasti akan terus berlangsung hingga tahun depan. Pengusaha mana yang bisa tahan dengan beban bunga yang demikian tinggi dalam situasi pasar dan krisis energi seperti sekarang ini," tambahnya.(yn)
bisnis.com
Berita Lain
- Simpanan perbankan di BI turun 39%
- BI belum beri sinyal penurunan suku bunga
- Kemungkinan BI Rate turun sangat kecil
- Boediono prihatin atas putusan Tipikor dan KPK
- BI: Likuiditas naik Rp6 triliun hari ini