Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Fokus Bank Indonesia


Kamis, 07/08/2008 10:56 WIB

BI hati-hati hadapi situasi global

oleh : M. Yunan Hilmi

JAKARTA (Bisnis.com): Bank Indonesia tetap mengambil tindakan hati-hati menghadapi ketidakpastian situasi ekonomi global yang ditandai dengan tingginya laju inflasi dan kenaikan suku bunga acuan.

"Secara global memang kondisinya penuh ketidakpastian. Jadi kita tetap harus hat-hati," ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom menanggapi keputusan Bank of Korea yang menaikkan suku bunga seperempat basis poin ke posisi tertinggi dalam delapan tahun menjadi 5,25%.

Keputusan Bank of Korea itu berarti mengikuti langkah sejumlah bank sentral di Asia seperti India, Indonesia, Taiwan, Thailand, dan Filipina. Langkah ini diambil untuk menahan laju inflasi yang terus naik akibat naiknya harga makanan dan bahan bakar.

Bank Indonesia memutuskan untuk kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9% pada Selasa pekan ini. Keputusan tersebut dimaksudkan untuk memantapkan stabilitas perekonomian dan sistem keuangan Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia Boediono menyampaikan bank sentral masih melihat adanya risiko tekanan indlasi ke depan yang bersumber dari gejolak harga minyak dan pangan dunia, setara tekanan permintaan dalam negeri. "Jadi kebijakan kenaikan BI Rate ini untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi dalam jangka menengah," ujarnya.

Ekonom Senior BNI Ryan Kiryanto mengatakan kenaikan suku bunga dan tingginya inflasi saat ini memang bisa dikatakan sebagai tren di dunia. "Sejumlah negara sudah melakukan hal tersebut meski beberapa lainnya masih mempertahankan suku bunga yang berlaku. Trennya memang seperti itu. Keputusan itu sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor eksternal," jelasnya di Jakarta hari ini.

Dia menambahkan kemungkinan kondisi global bisa berubah jika calon presiden AS Barack Obama memenangkan pemilu pada 5 November. Jika Obama menang, lanjutnya, pasukan AS yang ada di Irak dan Afghanistan akan ditarik. Juga dua pemimpin yang selama ini menentang pemerintah AS yaitu Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan Presiden Venezuela Hugo Chaves akan lebih melunak. Tentunya, dua pemimpin negara yang kaya minyak itu diharapkan menambah produksi minyaknya.

"Kalau Obama menang, saya yakin akan berpengaruh ke perekonomian AS menjadi lebih baik, yang pada gilirannya akan berdampak ke ekonomi dunia. Di sisi lain, pasok minyak ke pasar dunia bisa diharapkan dari Iran dan Venezuela. Lain jika ternyata kandidat Partai Republik McCain yang menang, bisa makin berdarah-darah," ujarnya disela-sela seminar hari ini. (yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • BI: Pertumbuhan kredit lebih terukur
  • Relaksasi BI perkuat perbankan nasional
  • 'Kenaikan BI Rate tak perburuk bank'
  • BI Rate naik 25 basis poin jadi 9,5%
  • BI perketat syarat investment banking
  • BI Surakarta minta waspadai uang palsu
  • BI Surakarta khawatir uang Rp1.000 habis
  • Boediono : 3 Masalah ancam setiap negara
  • BI hati-hati hadapi situasi global

Komentar

Beri Komentar